Abstrak
ANALISIS PENERAPAN PENDIDIKAN INKLUSI DALAM PEMBELAJARAN SEJARAH DI SMA NEGERI 9 SURAKARTA.
Oleh :
Aisna Chantika Aslinda Istighfari - K4422004 - Fak. KIP
Aisna Chantika Aslinda Istighfari. K4422004. Pembimbing: Dr. Musa Pelu, S.Pd., M.Pd. ANALISIS PENERAPAN PENDIDIKAN INKLUSI DALAM PEMBELAJARAN SEJARAH DI SMA NEGERI 9 SURAKARTA. Skripsi, Surakarta: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta, Juli 2026.Penelitian ini bertujuan untuk Mengetahui: 1) Perencanaan Pendidikan Inklusi Dalam Pembelajaran Sejarah di SMA Negeri 9 Surakarta, 2) Implementasi Pendidikan Inklusi Dalam Pembelajaran Sejarah di SMA Negeri 9 Surakarta, 3) Hambatan Dan Solusi Dalam Implementasi Pendidikan Inklusi Dalam Pembelajaran Sejarah di SMA Negeri 9 Surakarta.Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus, sumber data yang digunakan meliputi data primer berupa hasil observasi dan wawancara dengan guru sejarah, wakil kepala sekolah bidang kurikulum dan kesiswaan, serta peserta didik, dan data sekunder berupa dokumen pembelajaran modul ajar. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dan studi dokumen. Validitas data diuji dengan triangulasi teknik dan sumber, sedangkan analisis data dilakukan dengan model interaktif yang meliputi pengumpulan data, kondensasi data, penyajian data, serta penarikan simpulan dan verifikasi.Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) perencanaan pendidikan inklusi di SMA Negeri 9 Surakarta menerapkan Kurikulum Merdeka yang sama bagi peserta didik reguler maupun berkebutuhan khusus (ABK), dengan penyesuaian pada mata pelajaran PJOK serta penyediaan Google Classroom sebagai alternatif pembelajaran daring bagi peserta didik ABK yang berstatus atlet binaan Kementerian Pemuda dan Olahraga (2) implementasi pembelajaran sejarah menggunakan modul ajar yang sama bagi seluruh peserta didik, dengan penyesuaian teknis berupa kelompok diskusi campuran, presentasi tanpa mengharuskan ABK berpindah tempat, dan pemberian poin tambahan keaktifan, yang didukung interaksi sosial yang baik antara peserta didik reguler dan ABK serta kolaborasi sekolah dengan National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) (3) hambatan utama muncul dari keterbatasan waktu peserta didik ABK akibat jadwal latihan atlet, keterbatasan sarana dan prasarana, serta belum tersedianya Guru Pendamping Khusus dan pelatihan inklusi yang merata bagi seluruh guru, yang diatasi melalui pembelajaran yang fleksibel, pemanfaatan Google Classroom, metode kelompok yang partisipatif, dan kolaborasi aktif dengan NPCI