Abstrak


Analisis Usahatani Sistem Tumpang Sari dengan Tiga Komoditas


Oleh :
Ilham Wiguna - V4123095 - Sekolah Vokasi

Sistem tumpang sari merupakan strategi diversifikasi lahan yang berpotensi meningkatkan produktivitas lahan dan menekan risiko kegagalan panen, namun data empiris mengenai kelayakan finansialnya pada kondisi lokal masih terbatas. Tugas akhir ini bertujuan mempraktikkan budidaya sistem tumpang sari, mengetahui tingkat keefektifannya, menyusun analisis pemasaran hasil panen, serta menganalisis kelayakan usahatani. Kegiatan dilaksanakan di Dusun Krotok, Desa Pakuncen, Kecamatan Selomerto, Kabupaten Wonosobo, pada 1 Mei sampai 15 Juli 2026, pada lahan seluas ±200 m² dengan tiga komoditas, yaitu cabai (Capsicum annuum L.), mentimun (Cucumis sativus L.), dan kacang panjang (Vigna unguiculata Ssp.). Data dikumpulkan melalui observasi, dokumentasi, dan studi literatur. Analisis pemasaran menggunakan SWOT, STP, dan marketing mix 4P, sedangkan analisis usahatani meliputi biaya produksi, penerimaan, keuntungan, R/C ratio, B/C ratio, dan Break Even Point (BEP). Hasil menunjukkan total biaya produksi sebesar Rp 9.588.496 dan total penerimaan sebesar Rp 28.080.000, sehingga keuntungan mencapai Rp 18.491.504. Nilai R/C ratio keseluruhan sebesar 2,93 dan B/C ratio sebesar 1,93. Seluruh komoditas layak diusahakan, dengan R/C ratio cabai 4,26, mentimun 4,23, dan kacang panjang 2,07. Tumpang sari juga dinilai lebih efektif daripada monokultur, dengan Nisbah Kesetaraan Lahan (NKL) 1,48 berdasarkan literatur. Pemasaran diarahkan kepada konsumen ekonomi menengah ke bawah melalui penjualan grosir (pengepul dan tukang sayur) dan eceran, dengan promosi online dan offline. Dengan demikian, usahatani tumpang sari cabai, mentimun, dan kacang panjang layak dan menguntungkan untuk dijalankan.