Abstrak
ESTETIKA MOTIF BATIK KHAS WONOGIRI. (STUDI KASUS DI UMKM BATIK KALIMASADA WONOGIRI)
Oleh :
Dela Fia Aurelin - K3222016 - Fak. KIP
Dela
Fia Aurelin. K3222016. Pembimbing: Prof. Dr. Slamet Supriyadi, M.Pd. ESTETIKA
MOTIF BATIK KHAS WONOGIRI (STUDI KASUS DI UMKM BATIK KALIMASADA WONOGIRI).
Skripsi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret
Surakarta, Juli 2026.
Penelitian ini
bertujuan untuk (1) Mendeskripsikan latar belakang penciptaan motif batik khas
Wonogiri di UMKM Batik Kalimasada Wonogiri, dan (2) Mendeskripsikan estetika
motif batik khas Wonogiri yang diterapkan di UMKM Batik Kalimasada Wonogiri
berdasarkan pendekatan teori A. A. M. Djelantik (1999). Penelitian ini
merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kasus.
Sumber data penelitian ini meliputi peristiwa membuat batik, Informan (Pemilik
UMKM Batik Kalimasada Wonogiri, Perajin dari luar yang turut kolaborasi dengan UMKM
Batik Kalimasada Wonogiri, Pekerja UMKM Batik Kalimasada Wonogiri), dan dokumen
(foto karya, arsip, buku, jurnal, katalog karya). Teknik penggambilan sampel
dilakukan dengan purposive sampling dan snowball sampling.
Pengumpulan data dilakukan dengan teknik studi kasus, observasi, wawancara,
dokumentasi. Teknik Uji Validitas yang digunakan adalah triangulasi sumber data
dan triangulasi teknik. Analisis data menggunakan penggumpulan data, reduksi
data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini adalah
sebagai berikut. Pertama, Penciptaan motif batik tulis di UMKM Batik
Kalimasada Wonogiri dilatarbelakangi oleh faktor eksternal dan internal. Faktor
eksternal meliputi penyesuaian terhadap tren pasar serta kolaborasi dengan
perajin, dosen, dan mahasiswa KKN UNS dalam pengembangan motif. Sementara itu,
faktor internal berupa kecintaan terhadap batik, semangat pelestarian, dan
upaya mengenalkan potensi serta kearifan budaya lokal Wonogiri. Hal tersebut
diwujudkan melalui penciptaan motif Ketela, Jambu Mete, Gapura Wonogiri Sukses,
Kethek Ogleng, dan Museum Karst Indonesia sebagai identitas daerah sekaligus
untuk meningkatkan daya saing batik dan mengenalkan potensi Wonogiri melalui
motif batik. Kedua, Berdasarkan analisis estetika A.A.M. Djelantik
(1999), kelima motif batik memiliki unsur wujud (form) yang dikembangkan
dari potensi alam, budaya, sejarah, dan ikon Kabupaten Wonogiri melalui stilasi,
distorsi, dan deformasi sehingga membentuk motif dekoratif nongeometris. Unsur
bobot (content) merepresentasikan identitas dan kearifan lokal Wonogiri,
sedangkan unsur penyajian (presentation) diwujudkan melalui teknik batik
tulis pada kain jarik dan kemeja. Selain memiliki nilai estetis, kelima motif
juga berfungsi sebagai media pelestarian budaya.