Abstrak
PENGARUH PROPORSI BARISAN KACANG HIJAU TUMPANGSARI DENGAN JAGUNG MANIS TERHADAP PENYAKIT BERCAK DAUN, PERTUMBUHAN, DAN HASIL KACANG HIJAU (VIGNA RADIATA L.)
Oleh :
Budi Fajar Prasetyo - H0722033 - Fak. Pertanian
Kacang hijau (Vigna radiata L.) merupakan salah satu komoditas pangan yang bernilai penting di Indonesia karena mengandung protein nabati yang tinggi. Kebutuhan permintaan kacang hijau terus meningkat, tetapi belum mampu dipenuhi oleh produksi nasional akibat mengalami berbagai kendala dilapangan salah satunya adalah penyakit tanaman. Penyakit bercak daun yang disebabkan oleh Cercospora canescens merupakan salah satu penyebab rendahnya produktivitas kacang hijau. Sistem tumpangsari antara jagung manis dan kacang hijau berpotensi menekan perkembangan penyakit bercak daun melalui keragaman tanaman yang menjadi faktor pembatas penyebaran patogen. Selain itu, penerapan tumpangsari dengan proporsi yang tepat dapat memodifikasi kondisi mikroklimat sehingga berpotensi menekan perkembangan penyakit tanpa menurunkan pertumbuhan dan hasil tanaman. Penelitian ini bertujuan mendapatkan proporsi barisan kacang hijau tumpangsari dengan jagung manis yang sesuai dalam menekan perkembangan penyakit, serta mendukung pertumbuhan dan hasil kacang hijau. Penelitian ini dilaksanakan pada Oktober-Desember 2025 di lahan berlokasi di Desa Dlimas, Kec. Ceper. Rancangan penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) terdiri 3 perlakuan meliputi monokultur kacang hijau (kontrol), pola 1:2 (tumpangsari 1 baris jagung manis + 2 baris kacang hijau), dan pola 1:3 (tumpangsari 1 baris jagung manis + 3 baris kacang hijau) dengan 3 ulangan. Analisis data menggunakan ANOVA dan dilanjutkan dengan uji DMRT pada tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tumpangsari jagung manis-kacang hijau pola 1:2 dan 1:3 menekan perkembangan penyakit bercak daun kacang hijau melalui barrier effect dan heterogenitas pertanaman, yang didukung oleh insidensi penyakit masing-masing sebesar (65,87% dan 62,22%) dan intensitas penyakit (10,36% dan 9,51%) yang lebih rendah dibandingkan monokultur dengan insidensi (72,61%) dan intensitas (15,70%). Perlakuan tumpangsari pola 1:3 meningkatkan pertumbuhan vegetatif kacang hijau yang ditunjukkan oleh tinggi tanaman (44,87 cm), berat brangkasan segar (78,89 g), dan berat brangkasan kering (22 g), tetapi tidak meningkatkan komponen hasil kacang hijau dibandingkan monokultur.