Abstrak


EKSPRESI VERBAL DAN NONVERBAL DALAM TRADISI ENTAS-ENTAS DI DESA NGADAS, KECAMATAN PONCOKUSUMO, KABUPATEN MALANG


Oleh :
Ademaulana Dwi Pamungkas - B0119001 - Fak. Ilmu Budaya

Ademaulana Dwi Pamungkas. B0119001. 2026. Ekspresi Verbal dan Non-verbal dalam Tradisi Entas-entas di Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang. Skripsi: Program Studi Sastra Daerah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret.Dasar dari penelitian ini adalah bentuk ekspresi verbal dan non-verbal serta makna leksikal dan kultural yang terkandung dalam tradisi entas-entas di Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang. Tradisi entas-entas merupakan ritual kematian khas masyarakat Tengger yang bertujuan untuk menyempurnakan dan meluhurkan atman (roh leluhur) agar terbebas dari siklus Punarbhawa.Permasalahan yang menjadi fokus utama pembahasan dalam penelitian adalah: (i) Bagaimana bentuk ekspresi verbal dan non-verbal dalam tradisi entas-entas di Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, dan (ii) Bagaimana makna leksikal dan makna kultural yang terkandung dalam tradisi entas-entas di Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang.Tujuan dari penelitian ini mencakup dua hal, yaitu untuk (i) Mendeskripsikan bentuk ekspresi verbal dan non-verbal dalam tradisi entas-entas di Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, dan (ii) Mendeskripsikan makna leksikal dan makna kultural yang terkandung dalam tradisi entas-entas di Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang. Data berupa tuturan, doa atau mantra, istilah adat, serta simbol-simbol ubarampe dikumpulkan melalui metode simak, wawancara mendalam dengan tokoh adat atau Dukun Pandhita, dan teknik simak-catat. Data dianalisis menggunakan metode distribusional dengan teknik Bagi Unsur Langsung (BUL) untuk mengklasifikasikan bentuk ekspresi, serta metode padan untuk menganalisis makna kultural. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan etnolinguistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Bentuk ekspresi pada tradisi entas-entas di Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang berwujud istilah yang dapat dikelompokan sebagai satuan lingual monomorfemis (atman, petra, beskap, sampet, udheng, pring, gentha, mori, banyu, geni, pasren), polimorfemis (mangku, pedandan, pundhen, tenalayu, prapen) atau frasa (dhukun pandhita, kembang kenikir, damar colok, godhong nyangkuh, pitik urip, bebek urip, wedhus korban, gedhang ayu, endog pitik, jajanan pasar) serta dalam bentuk mantra atau doa. (2) Makna kultural yang terdapat pada tradisi entas-entas mendeskripsikan hubungan spiritual masyarakat Tengger dengan Tuhan, leluhur serta alam sekitar sehingga dapat mensucikan roh menuju ketentraman sejati.