Abstrak


Pemanfaatan Bekatul dan Tepung Jagung sebagai Sumber Nutrisi pada Media Baglog dalam Budidaya Jamur Tiram (Pleurotus ostreatus)


Oleh :
Kania Zaky Berlianti - V4123045 - Sekolah Vokasi

Jamur tiram (Pleurotus ostreatus) merupakan salah satu komoditas hortikultura yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai usaha agribisnis. Keberhasilan budidaya jamur tiram dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah ketersediaan nutrisi pada media tanam atau baglog. Media baglog umumnya menggunakan serbuk gergaji sebagai bahan utama yang dapat ditambahkan bahan lain sebagai sumber nutrisi. Bekatul dan tepung jagung digunakan sebagai bahan tambahan karena mengandung nutrisi yang dapat mendukung pertumbuhan miselium dan pembentukan tubuh buah jamur tiram. Kegiatan Tugas Akhir ini bertujuan untuk mengetahui dan mempraktikkan tahapan budidaya jamur tiram serta melakukan analisis usahatani dan pemasaran untuk mengetahui kelayakan usaha yang dijalankan. Kegiatan Tugas Akhir dilaksanakan pada tanggal 6 April sampai 7 Juli 2026 di Desa Banyak, Jantiharjo, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Metode pelaksanaan yang digunakan meliputi wawancara dengan pemilik usaha jamur tiram, praktik langsung, dokumentasi, dan studi pustaka. Praktik budidaya dilakukan menggunakan 100 baglog dengan komposisi media berupa serbuk gergaji sebanyak 100 kg, bekatul 5 kg, tepung jagung 2,5 kg, dan dolomit 0,5 kg. Tahapan budidaya yang dilakukan meliputi pembuatan media baglog, sterilisasi, inokulasi bibit, inkubasi, pemeliharaan kumbung, pemanenan, pascapanen, dan pemasaran. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa proses budidaya dapat dilaksanakan hingga menghasilkan jamur tiram segar sebanyak 24 kg dari 100 baglog dalam 14 kali panen. Pertumbuhan miselium berlangsung selama 42 hari, yaitu sejak tanggal 13 April hingga 25 Mei 2026. Selama proses inkubasi tidak ditemukan kontaminasi pada baglog, namun terdapat satu baglog yang mengalami pertumbuhan miselium tidak sempurna. Pemeliharaan dilakukan dengan menjaga kondisi lingkungan kumbung, melakukan penyiraman setelah munculnya pinhead, serta melakukan pencegahan terhadap hama. Hasil panen kemudian dibersihkan, ditimbang sesuai permintaan konsumen, dan dikemas menggunakan plastik bening sebelum dipasarkan. Pemasaran jamur tiram dilakukan secara langsung kepada konsumen dan pemilik warung makan serta melalui media sosial WhatsApp. Produk yang dipasarkan berupa jamur tiram segar dengan harga jual sebesar Rp20.000 per kilogram. Berdasarkan analisis usahatani, total biaya produksi yang dikeluarkan sebesar Rp476.100, sedangkan total penerimaan dari penjualan 24 kg jamur tiram sebesar Rp480.000. Keuntungan yang diperoleh sebesar Rp3.900 dengan nilai Harga Pokok Produksi sebesar Rp19.837 per kilogram. Hasil analisis kelayakan menunjukkan nilai R/C Ratio sebesar 1,008 dan B/C Ratio sebesar 0,008, sehingga usaha budidaya jamur tiram dinyatakan layak untuk dijalankan karena memberikan keuntungan, meskipun keuntungan yang diperoleh masih sangat tipis. Nilai BEP produksi sebesar 23,8 kg menunjukkan bahwa produksi aktual sebesar 24 kg telah sedikit melampaui titik impas.