Abstrak
STUDI FENOMENOLOGI: PURPOSE IN LIFE KORBAN KEKERASAN SEKSUAL PADA MASA ANAK-ANAK
Oleh :
Zyuka Nabilatun Nisa Nur Laili - K3122087 - Fak. KIP
Kekerasan seksual pada masa anak-anak umumnya berdampak negatif secara
psikologis dan sering dikaitkan dengan rendahnya purpose in life. Namun, sebagian
mahasiswa FKIP UNS yang pernah mengalami kekerasan seksual justru memiliki
purpose in life yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menganalisis pengalaman
hidup mahasiswa yang pernah mengalami kekerasan seksual pada masa anak-anak; (2)
menganalisis bagaimana pengalaman kekerasan seksual pada masa anak-anak
memengaruhi pembentukan purpose in life mahasiswa; (3) menganalisis bagaimana
mahasiswa dengan riwayat kekerasan seksual pada masa anak-anak memaknai purpose
in life dalam kehidupannya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan
metode studi fenomenologi Descriptive Phenomenological Analysis (DPA) menurut
Moustakas (1994) yang diadaptasi oleh La Kahija (2021). Subjek penelitian adalah tiga
mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret yang
dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara
semi terstruktur. Keabsahan data diuji dengan member checking. Analisis data
menggunakan tahapan epoché, reduksi fenomenologis, variasi imajinatif, dan sintesis
makna. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap partisipan berbeda (1) dalam
menjalani pengalaman. Subjek 1 menghindari hal yang mengingatkan pada peristiwa,
Subjek 2 menjadikannya motivasi untuk berkembang, dan Subjek 3 menerimanya sebagai
bagian dari perjalanan hidup.(2) Pengalaman kekerasan seksual pada masa anak-anak
memengaruhi pembentukan purpose in life mahasiswa, yaitu Subjek 1 menjadi pribadi
mandiri, Subjek 2 memberi manfaat bagi orang lain, dan Subjek 3 menjadi pribadi yang
lebih baik. (3) Pemaknaan terhadap purpose in life, Subjek 1 sebagai pegangan untuk
bangkit, Subjek 2 sebagai sarana berkontribusi bagi sesama, dan Subjek 3 sebagai arah
untuk tumbuh. Temuan ini menunjukkan bahwa kekerasan seksual pada masa anak-anak
tidak selalu menghambat, melainkan dapat menjadi dasar pembentukan purpose in life,,
bergantung pada cara individu memaknai pengalaman tersebut. Penyintas kekerasan
seksual pada masa anak-anak tetap dapat membangun purpose in life melalui penerimaan
diri, pemaknaan pengalaman, dan dukungan sosial. Konselor disarankan membantu
penyintas membangun purpose in life melalui layanan konseling. Institusi pendidikan
disarankan menyediakan lingkungan yang aman serta membangun budaya kampus yang
suportif melalui edukasi pencegahan kekerasan. Peneliti selanjutnya dapat melakukan
penelitian eksperimen guna menguji efektivitas layanan bimbingan dan konseling dalam
meningkatkan purpose in life.