Abstrak
Melankolia Maskulin:
Oleh :
Hafid Primananda Rahmanniar - C0622023 - Fak. Seni Rupa dan Desain
Hafid Primananda Rahmanniar. C0622023. 2026. Melankolia Maskulin: Representasi Body Dysmorphic Disorder dalam Karya Seni Lukis. Skripsi S-1 (Minat Penciptaan Seni), Program Studi Seni Rupa, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Universitas Sebelas Maret, Surakarta.Penciptaan karya seni lukis ini dilatarbelakangi oleh fenomena Body Dysmorphic Disorder (BDD) pada laki-laki yang berkaitan dengan preokupasi terhadap penampilan fisik dan kerentanan psikologis dalam konstruksi maskulinitas. Penciptaan ini bertujuan untuk menjelaskan arti dan karakteristik visual melankolia maskulin, menjelaskan pentingnya konsep tersebut sebagai pendekatan visual dalam merepresentasikan BDD, serta memvisualisasikannya melalui ekspresionisme figuratif. Sumber ide berasal dari pengamatan terhadap fenomena citra tubuh, kajian pustaka, serta tinjauan karya Jenny Saville, Pablo Picasso, dan Francis Bacon. Media yang digunakan berupa cat air di atas kertas berukuran 59,4 × 84,1 cm. Metode penciptaan meliputi tahap praproduksi berupa penemuan ide, pengumpulan data, dan perancangan konsep; tahap produksi berupa penyusunan sketsa, underpainting, pewarnaan latar dan objek, pengerjaan detail, serta finishing; dan tahap pascaproduksi berupa penyajian karya.Hasil penciptaan berupa enam karya seni lukis yang merepresentasikan enam bentuk preokupasi tubuh pada laki-laki, yaitu kondisi kulit wajah akibat inflamasi jerawat, kerontokan rambut, tinggi badan, ukuran dan bentuk tubuh melalui muscle dysmorphia, ukuran alat kelamin, serta bentuk dan proporsi wajah. Visualisasi diwujudkan melalui figur laki-laki, ruang kamar mandi sebagai ruang privat, penggunaan cermin, distorsi dan deformasi tubuh, serta palet warna dengan saturasi rendah untuk membangun suasana melankolis. Teknik glazing, layering, blending, dan sapuan transparan dimanfaatkan untuk membangun bentuk, volume, tekstur, dan atmosfer emosional. Analisis karya menunjukkan bahwa unsur visual tersebut mampu merepresentasikan pengalaman berupa kecemasan, rasa malu, keterasingan, kelelahan emosional, pengawasan diri, dan kesulitan menerima tubuh. Penciptaan ini menunjukkan bahwa persoalan BDD tidak semata-mata terletak pada kondisi fisik, tetapi pada cara individu memersepsikan dan memaknai tubuhnya. Melalui seni lukis cat air, pengalaman psikologis yang tidak kasatmata dapat diterjemahkan menjadi representasi visual mengenai kerentanan laki-laki dan tekanan standar maskulinitas.