Abstrak
EKSPERIMENTASI MODEL PEMBELAJARAN CORE (CONNECTING, ORGANIZING, REFLECTING, EXTENDING) TERHADAP KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS DITINJAU DARI MOTIVASI BELAJAR SISWA SMP NEGERI 3 MOJOLABAN TAHUN AJARAN 2025/2026
Oleh :
Ruwina Ika Pratiwi - K1322084 - Fak. KIP
Ruwina Ika Pratiwi. K1322084. Pembimbing: Dhidhi Pambudi S.Si., M.Cs., Ph.D.EKSPERIMENTASI MODEL PEMBELAJARAN CORE (CONNECTING, ORGANIZING, REFLECTING, EXTENDING) TERHADAP KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS DITINJAU DARI MOTIVASI BELAJAR SISWA SMP NEGERI 3 MOJOLABAN TAHUN AJARAN 2025/2026. Skripsi. Surakarta: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta, Juli 2026.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) pengaruh model pembelajaran CORE (Connecting, Organizing, Reflecting, Extending) terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis siswa pada materi garis dan sudut, (2) pengaruh motivasi belajar terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis siswa, dan (3) pola interaksi antara model pembelajaran dan motivasi belajar terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis siswa. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode eksperimen semu (quasi experiment) menggunakan desain faktorial 2 × 3. Populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas VII SMP Negeri 3 Mojolaban Tahun Ajaran 2025/2026. Sampel penelitian terdiri atas kelas VII A sebagai kelas eksperimen yang menggunakan model pembelajaran CORE dan kelas VII B sebagai kelas kontrol yang menggunakan model pembelajaran langsung, yang dipilih menggunakan teknik cluster random sampling. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui tes kemampuan pemecahan masalah matematis dan angket motivasi belajar. Instrumen penelitian telah memenuhi validitas isi, sedangkan reliabilitas instrumen diuji menggunakan koefisien Alpha. Analisis data dilakukan menggunakan analisis variansi dua jalan dengan sel tak sama pada taraf signifikansi 0,05 yang didahului dengan uji prasyarat berupa uji normalitas dan uji homogenitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang memperoleh pembelajaran menggunakan model CORE lebih baik daripada siswa yang memperoleh pembelajaran langsung; (2) siswa dengan motivasi belajar tinggi memiliki kemampuan pemecahan masalah matematis yang lebih baik dibandingkan siswa dengan motivasi belajar sedang dan rendah, sedangkan siswa dengan motivasi belajar sedang memiliki kemampuan pemecahan masalah matematis yang lebih baik dibandingkan siswa dengan motivasi belajar rendah; dan (3) tidak terdapat interaksi antara model pembelajaran dan motivasi belajar terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis siswa.