Abstrak
Analisis Usahatani Budidaya Mentimun (Cucumis sativus L.) dengan Memanfaatkan Limbah Air Cucian Beras dan NPK Sebagai Pupuk Dasar
Oleh :
Amina Geri Harjayani - V4123008 - Sekolah Vokasi
Mentimun merupakan komoditas hortikultura bernilai ekonomi tinggi, namun
produktivitasnya di Indonesia mengalami penurunan pada periode 2022–2024
akibat faktor iklim, teknik budidaya yang belum optimal, penggunaan benih
bermutu rendah, serta serangan hama dan penyakit. Salah satu upaya peningkatan
produktivitas mentimun adalah dengan memanfaatkan limbah air cucian beras
dikombinasikan dengan pupuk NPK sebagai pupuk dasar. Kegiatan tugas akhir ini
bertujuan untuk mempraktikkan tahapan budidaya mentimun mulai dari
pengolahan lahan hingga penanganan pascapanen, serta menganalisis kelayakan
usahataninya. Kegiatan dilaksanakan di Desa Plosorejo, Kecamatan Matesih,
Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah, pada 17 April–18 Juni 2026. Benih
mentimun yang digunakan varietas Lumintu F1. Penyemaian dilakukan selama 14
hari dengan media tanah, pupuk kandang, dan arang sekam (2:1:1). Lahan yang
digunakan seluas 200 m2 dengan populasi 600 tanaman. Proses fermentasi limbah
air cucian beras dengan EM4 dan gula merah selama 14 hari, dengan dosis aplikasi
sebesar 300 ml/L air, dikombinasikan dengan pupuk NPK Mutiara 16:16:16
sebanyak 9 g/tanaman. Jadwal pemupukan pada umur 14, 28, dan 42 HST.
Hasil panen selama satu musim tanam sebesar 353 kg, dengan panen pertama
pada 35 HST sejumlah 33 kg hingga panen terakhir pada 49 HST sejumlah 27 kg,
serta produktivitas sebesar ±17,65 ton/ha yang masih di bawah potensi hasil
maksimal varietas Lumintu F1 sesuai SK Menteri Pertanian Nomor
3172/Kpts/SR.120/9/2012, yaitu sebesar 50–60 ton/ha. Hasil analisis usahatani
berupa penerimaan sebesar Rp2.230.000, lebih besar daripada biaya produksi
sebesar Rp1.647.471, dengan keuntungan sebesar Rp582.529, nilai R/C ratio
sebesar 1,35 (>1), dan B/C ratio sebesar 0,35 (>0), sebagai indikasi usahatani yang
menguntungkan, serta BEP produksi sebesar 274 kg dan BEP harga sebesar
Rp4.667/kg, dengan produksi aktual di atas kedua nilai BEP tersebut. Dengan
demikian, usahatani budidaya mentimun dengan pemanfaatan limbah air cucian
beras dan NPK sebagai pupuk dasar tergolong layak dan berpotensi untuk
pengembangan lebih lanjut.