Abstrak


KOMPATIBILITAS ANTARA BATA MERAH DAN MORTAR REPAIR BERBAHAN DASAR KAPUR DENGAN MATERIAL BANGUNAN HERITAGE


Oleh :
Hana Wardani P - T752102002 - Fak. Teknik

Bangunan cagar budaya merupakan aset arsitektur, sejarah, sosial, dan budaya yang rentan mengalami kerusakan akibat pelapukan lingkungan serta proses penuaan material. Mortar berbasis kapur yang banyak digunakan pada pasangan bata bangunan bersejarah memiliki kompatibilitas yang lebih baik dengan material asli dibandingkan mortar berbasis semen modern. Namun, mortar kapur mempunyai keterbatasan berupa kekuatan mekanis yang relatif rendah serta kerentanan terhadap penyusutan, rangkak, dan keretakan. Tujuan pada penelitian ini adalah mengembangkan mortar perbaikan berbasis kapur yang diperkuat serat alami rami (Boehmeria nivea) sebagai alternatif material untuk pemugaran bangunan cagar budaya khususnya panel dinding, termasuk bangunan cagar budaya pada Stasiun Kereta Api. Penelitian dilakukan secara eksperimental dengan mengevaluasi pengaruh jenis bahan kapur dan variasi kadar serat rami terhadap kuat tekan, penyusutan, rangkak, serta kompatibilitas mortar dengan bata merah. Evaluasi juga dilakukan terhadap panel dinding yang mengombinasikan material heritage dan material repair untuk mengidentifikasi perilaku bidang pertemuan kedua material. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan kapur murni berbentuk padat serta tanah liat dengan pemeraman minimal 6 bulan memberikan kinerja yang lebih baik sebagai bahan pengikat mortar perbaikan, sehingga dimensi cetakan dibuat menyesuaikan ukuran bata merah. Penambahan serat rami sebesar 3% dengan panjang 1 cm menghasilkan keseimbangan kinerja mekanis dan stabilitas dimensional yang paling optimal. Pada aplikasi panel dinding, penambahan anyaman rami selebar 5 cm pada bagian pertemuan antara material heritage dan repair meningkatkan kontinuitas serta kompatibilitas bidang sambungan. Dengan demikian, mortar kapur yang diperkuat serat rami 3% dan anyaman rami pada interface material substrate dan repair berpotensi menjadi material perbaikan yang alami dan kompatibel untuk mendukung pemugaran bangunan cagar budaya.