Abstrak


PERKAMPUNGAN BUDAYA BETAWI SETU BABAKAN DALAM PENGUATAN IDENTITAS KOLEKTIF MASYARAKAT BETAWI


Oleh :
Muhammad Harits Abyan Darwien - D0322140 - Fak. ISIP

Masyarakat Betawi beserta kebudayaannya kian hari makin terancam karena terjadinya faktor-faktor seperti arus modernisasi, urbanisasi, dan sebagainya di Ibu Kota Jakarta. Setu Babakan yang dicanangkan sebagai Perkampungan Budaya Betawi berdiri dengan fungsinya sebagai kawasan ekosistem pelestarian kebudayaan. Penelitian yang dilakukan ditujukan guna menganalisis dinamika aktor-aktor yang terdapat di kawasan Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan. Dalam hal ini, kawasan Setu Babakan yang merupakan sebuah ekosistem kebudayaan dengan segala pihak yang terlibat di dalamnya, meliputi pelaku seni tradisional Betawi, pelaku UMKM, hingga pihak pengelola kawasan saling mengisi dan terikat satu sama lain dalam satu tujuan yang sama, yakni menguatkan identitas kolektif masyarakat Betawi. Dengan metode kualitatif dan pendekatan studi kasus, data didapatkan melalui langkah-langkah, yakni observasi, wawancara semi-terstruktur, dan dokumentasi pada informan yang dipilih melalui purposive sampling. Melalui landasan Teori Identitas Sosial oleh Tajfel & Turner dan konsep Identitas Kolektif Alberto Melucci, penelitian ini menunjukkan bahwa segala kegiatan pelestarian yang dihelat pada Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan merupakan semacam gerakan perlawanan kultural organik yang bergerak dari akar rumput yang didorong oleh investasi emosional para aktor. Berdasarkan sudut pandang sosiologis, masyarakat Betawi secara dinamis membangun identitas melalui dimensi kognitif, jaringan hubungan aktif, serta investasi emosional, di mana ketiga faktor ini mendorong tahapan fundamental dalam Teori Identitas Sosial yakni pembentukan kategorisasi, identitas, dan perbandingan sosial yang berujung pada strategi pembedaan positif. Pembedaan positif sebagai tahap akhir Teori Identitas Sosial Tajfel & Turner ditunjukkan oleh masyarakat Betawi dalam keseniannya, seperti keunikan dalam masing-masing kesenian yang sulit atau tidak dapat ditemukan dalam hiburan atau kesenian lain, serta inovasi adaptasi kesenian dalam ranah digital. Selain itu, pembedaan positif ini juga dapat dilihat dari keikutsertaan atau keterlibatan kelompok out-group dalam kegiatan pelestarian kebudayaan yang berakar dari karakter masyarakat Betawi yang inklusif.