Abstrak
AGATA (Anak Gaul Surakarta): Studi Konstruksi Realitas Sosial Pada Gaya Hidup Generasi Z di Surakarta
Oleh :
Shafira Nur Azelia - K8419078 - Fak. KIP
Penelitian ini bertujuan
untuk (1) mendeskripsikan makna gaul dalam fenomena AGATA serta (2)
menganalisis proses konstruksi realitas sosial AGATA melalui tahapan
eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi di kalangan generasi Z di
Surakarta. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis
penelitian studi kasus. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi,
dan dokumentasi, dengan triangulasi sumber
sebagai teknik uji validitas data. Informan dipilih secara purposive sampling dengan mempertimbangkan keterlibatan atau pengetahuan
mereka terhadap fenomena AGATA, ruang pergaulan anak muda, serta penggunaan
media sosial. Analisis data dilakukan melalui proses reduksi data, penyajian
data, dan penarikan kesimpulan, dengan
teori konstruksi realitas sosial Peter L. Berger dan Thomas Luckmann sebagai
landasan analisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makna gaul dalam fenomena
AGATA tidak bersifat tunggal. Gaul dimaknai sebagai kemampuan bergaul,
membangun relasi, mengikuti tren, memilih ruang pergaulan, memperhatikan
penampilan, aktif menggunakan media sosial, serta menyesuaikan diri dengan
lingkungan sosial tertentu. Proses konstruksi realitas sosial AGATA berlangsung
secara dialektis: eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi. Eksternalisasi
terlihat dari praktik nongkrong, pilihan tempat bergaul, gaya berpakaian,
penggunaan bahasa, dan aktivitas media sosial. Objektivasi tampak ketika
istilah AGATA mulai dikenal luas dan diasosiasikan dengan gaya hidup anak gaul
Surakarta, serta melekat pada kawasan
tertentu, khususnya di sepanjang Jalan Slamet Riyadi. Internalisasi
menghasilkan variasi sikap generasi Z dalam merespons label tersebut, mulai
dari menerima, merasa bangga, bersikap kritis, menolak, hingga menafsirkan
kembali label AGATA. Dengan
demikian, AGATA merupakan label
dari realitas sosial yang
dibentuk melalui interaksi antara individu, ruang pergaulan, media sosial, dan lingkungan
sosial generasi Z di Surakarta, serta bukan
komunitas formal dengan keanggotaan yang tetap.