;

Abstrak


Perbandingan Luaran dan Keamanan Radiofrekuensi Ablasi pada Saluran Keluar Ventrikel Kanan Ventrikular Ekstrasistol dengan Menggunakan Kateter Non irigasi dan Irigasi


Oleh :
Mochammad Biko Adji Sukmo Rahardjo - S512108003 - Fak. Kedokteran

Mochammad Biko Adji Sukmo Rahardjo, NIM S512108003, 2026. “Perbandingan Luaran dan Keamanan Radiofrekuensi Ablasi pada Saluran Keluar Ventrikel Kanan Ventrikular Ekstrasistol dengan Menggunakan Kateter Non irigasi dan Irigasi”. Tesis. Pembimbing I: dr. Irnizarifka, Sp.JP, SubSp.Ar (K), AIFO-K, FIHA, FAPSC, FAsCC, FHFA, FACC. Pembimbing 2: dr. Indah Fitria Ramdhani, Sp.JP (K), FIHA. Program Pendidikan Dokter Spesialis-1 Jantung dan Pembuluh Darah, Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret, Surakarta.Latar Belakang: Radiofrekuensi ablasi (RFA) merupakan terapi utama pada pasien ventrikular ekstrasistol (PVC) idiopatik asal saluran keluar ventrikel kanan (right ventricular outflow tract/RVOT). Kateter irigasi secara teoritis mampu menghasilkan lesi yang lebih luas dan lebih dalam dibandingkan kateter non-irigasi, namun keunggulan klinisnya pada ablasi PVC RVOT masih belum jelas.Tujuan: Menganalisis perbedaan luaran radiofrekuensi ablasi menggunakan kateter irigasi dan non-irigasi pada pasien ventrikular ekstrasistol idiopatik asal saluran keluar ventrikel kanan.Metode: Penelitian analitik observasional dengan desain retrospektif dilakukan pada 59 pasien yang menjalani radiofrekuensi ablasi PVC idiopatik RVOT di Rumah Sakit Universitas Sebelas Maret Surakarta. Subjek dibagi menjadi kelompok kateter irigasi (n=24) dan kateter non-irigasi (n=35). Luaran yang dievaluasi meliputi keberhasilan akut, keberhasilan kronik pada evaluasi tiga bulan, penurunan beban PVC, waktu fluoroskopi, dose-area product (DAP), durasi prosedur, skin-to-skin time, profil keamanan, serta faktor-faktor yang berhubungan dengan keberhasilan ablasi.Hasil: Karakteristik dasar kedua kelompok tidak berbeda bermakna (p>0,05). Keberhasilan akut dicapai pada 83,3% kelompok kateter irigasi dan 77,1% kelompok kateter non-irigasi (p=0,745), sedangkan keberhasilan kronik masing-masing sebesar 45,8% dan 40,0% (p=0,656). Tidak terdapat perbedaan bermakna antara kedua kelompok terhadap penurunan beban PVC, persentase penurunan PVC, waktu fluoroskopi, DAP, durasi prosedur, skin-to-skin time, maupun profil keamanan (seluruh p>0,05). Analisis faktor yang memengaruhi keberhasilan menunjukkan bahwa jenis kateter, lokasi asal PVC, durasi kompleks QRS, dan maximum deflection index (MDI) tidak berhubungan dengan keberhasilan akut maupun kronik. Sebaliknya, waktu fluoroskopi yang lebih singkat (p=0,018) dan DAP yang lebih rendah (p=0,008) berhubungan dengan keberhasilan akut prosedur.Kesimpulan: Penggunaan kateter irigasi tidak menunjukkan keunggulan dibandingkan kateter non-irigasi terhadap keberhasilan akut, keberhasilan kronik, penurunan beban ventrikular ekstrasistol, parameter prosedural, maupun profil keamanan pada radiofrekuensi ablasi PVC idiopatik asal saluran keluar ventrikel kanan. Keberhasilan prosedur lebih dipengaruhi oleh efisiensi pelaksanaan tindakan yang tercermin dari waktu fluoroskopi yang lebih singkat dan paparan radiasi yang lebih rendah dibandingkan jenis kateter yang digunakan.