Abstrak
EKSPERIMENTASI MODEL PEMBELAJARAN DEEP DIALOGUE CRITICAL THINKING (DDCT) TERHADAP KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH PADA MATERI PERSAMAAN LINEAR TIGA VARIABEL DITINJAU DARI SELF-EFFICACY SISWA KELAS X SMA NEGERI KOTA SURAKARTA TAHUN AJARAN 2025/2026
Oleh :
Alifka Gusnindia - K1322007 - Fak. KIP
Alifka
Gusnindia. K1322007. Pembimbing: Dr. Dra. Yuli Bangun Nursanti, M.Pd. Eksperimentasi
Model Pembelajaran Deep Dialogue Critical Thinking (DDCT) terhadap
Kemampuan Pemecahan Masalah pada Materi Persamaan Linear Tiga Variabel Ditinjau
dari Self-Efficacy Siswa Kelas X SMA Negeri Kota Surakarta Tahun Ajaran
2025/2026. Skripsi. Surakarta: Fakultas Keguruan dan
Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta, Juli 2026. Penelitian
ini bertujuan (1) menganalisis
perbedaan kemampuan pemecahan masalah matematis antara peserta didik yang
memperoleh pembelajaran menggunakan model DDCT dan Direct Instruction,
(2) menganalisis perbedaan kemampuan pemecahan masalah matematis berdasarkan
tingkat self-efficacy pada materi persamaan linear tiga variabel, serta (3)
menganalisis interaksi antara model pembelajaran dan self-efficacy
terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis pada materi Sistem Persamaan
Linear Tiga Variabel (SPLTV). Penelitian eksperimental semu dengan rancangan
faktorial 2 x 3 sebagai metode penelitian. Populasi dari penelitian ini adalah seluruh
siswa kelas X SMA Negeri 5 Surakarta tahun ajaran 2025/2026 dan sampel yang
digunakan dari kelas XE2 dan XE3 sebanyak 71 siswa. Teknik pengambilan sampel
dilakukan dengan teknik probability sampling. Pengumpulan data dilakukan
dengan metode tes untuk mengetahui kemampuan pemecahan siswa dan metode angket
untuk mengetahui tingkat self-efficacy. Analisis data dilakukan dengan
teknik analisis variansi dua jalan sel tak sama. Hasil penelitian ini (1) Model
pembelajaran DDCT memberikan hasil kemampuan pemecahan siswa yang lebih baik
daripada model pembelajaran langsung pada materi persamaan linear tiga variabel,
(2) Siswa dengan tingkat self-efficacy tinggi memiliki kemampuan
pemecahan masalah yang lebih baik daripada siswa dengan tingkat self-efficacy
rendah, dan siswa dengan tingkat self-efficacy sedang memiliki
kemampuan pemecahan masalah yang sama baiknya dengan siswa tingkat self-efficacy
rendah, (3) pada masing-masing model pembelajaran dan tingkatan self-efficacy
tidak terdapat interaksi yang signifikan.