Abstrak


KONSTRUKSI IDENTITAS DIGITAL PENGGUNAAN KEBAYA PADA KREATOR KONTEN @HANINDITTTA


Oleh :
Erika Emmanuela - D0222034 - Fak. ISIP

Perkembangan media sosial menjadikan platform digital sebagai ruang bagi individu untuk menampilkan dan mengonstruksi identitas. Fenomena tersebut terlihat pada Hanindita, seorang konten kreator yang secara konsisten menampilkan kebaya dalam unggahan Instagram. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konstruksi identitas digital Hanindita sebagai konten kreator berkebaya serta menganalisis presentasi dirinya melalui perspektif dramaturgi Erving Goffman. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dengan Hanindita sebagai informan utama, dua informan pendukung, serta dokumentasi unggahan Instagram Hanindita. Analisis data menggunakan teori konstruksi sosial Peter L. Berger dan Thomas Luckmann serta teori dramaturgi Erving Goffman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa identitas digital Hanindita dikonstruksi melalui proses eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi. Pengalaman serta pemaknaan Hanindita terhadap kebaya diekspresikan melalui produksi konten dan penggunaan kebaya dalam berbagai konteks, seperti perkuliahan, kegiatan kampus, menjadi pembicara, dan aktivitas lainnya. Representasi tersebut kemudian diperkuat melalui pengulangan penggunaan kebaya serta terbentuknya citra Hanindita sebagai konten kreator berkebaya. Kebaya tidak hanya berfungsi sebagai busana, tetapi juga sebagai medium komunikasi visual yang merepresentasikan identitas personal, nilai budaya, dan personal branding. Dalam perspektif dramaturgi, temuan penelitian ini lebih banyak menggambarkan panggung depan Hanindita, yang tercermin dari konsistensi visual, pilihan busana, serta pengelolaan tampilan di Instagram maupun di ruang sosial yang memiliki audiens. Adapun data mengenai panggung belakang diperoleh melalui wawancara dan dokumentasi yang disediakan oleh informan, tanpa didukung observasi langsung terhadap keseharian Hanindita, sehingga kesesuaian antara kedua panggung tersebut perlu dipahami sebagai interpretasi berdasarkan penuturan informan, bukan hasil pengamatan langsung peneliti. Dengan demikian, penelitian ini menyimpulkan bahwa identitas berkebaya Hanindita dikonstruksi dan dikelola secara konsisten pada panggung depan digital, sementara pemahaman mengenai keselarasannya dengan kehidupan nyata masih bersifat tentatif dan terbuka untuk didalami lebih lanjut melalui penelitian yang melibatkan observasi langsung.