Abstrak
Efisiensi Serapan Hara Dan Pertumbuhan Jagung Manis (Zea mays saccharata Sturt) Dengan Imbangan Asam Humat Dan Pupuk NPK Di Tanah Alfisol
Oleh :
Faris Fadhillah Royan Burhan - H0222040 - Fak. Pertanian
Tanah Alfisol memiliki persebaran yang luas di Indonesia, namun produktivitasnya
terbatas oleh rendahnya ketersediaan unsur hara makro (N, P, K) serta potensi
keracunan Al, Fe, dan Mn akibat kemasaman tanah yang tinggi. Karakteristik lain
seperti kadar bahan organik dan Kapasitas Tukar Kation (KTK) yang rendah
menyebabkan efisiensi serapan hara pada Alfisol sangat terbatas, yakni <20% untuk
nitrogen dan 5–15% untuk fosfor serta kalium. Penggunaan pupuk anorganik secara
terus-menerus berisiko menurunkan kualitas lingkungan, sehingga diperlukan
integrasi dengan pembenah tanah seperti Asam Humat untuk mengoptimalkan
efisiensi pemupukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh
kombinasi pupuk NPK dan Asam Humat terhadap efisiensi serapan N, P, dan K,
serta pertumbuhan tanaman jagung manis. Penelitian dilaksanakan di Kebun
Percobaan dan Laboratorium Kimia dan Kesuburan Tanah Fakultas Pertanian UNS,
menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) faktor tunggal yang
terdiri dari 9 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan meliputi: (A) Kontrol; (B) NPK
Rekomendasi; (C) 20 kg/ha Asam Humat; (D) ½ NPK + 20 kg/ha Asam Humat; (E)
¾ NPK + 20 kg/ha Asam Humat; (F) 1 NPK + 20 kg/ha Asam Humat; (G) ¾ NPK
+ 10 kg/ha Asam Humat; (H) ¾ NPK + 15 kg/ha Asam Humat; dan (I) ¾ NPK +
30 kg/ha Asam Humat. Parameter yang diamati mencakup efisiensi serapan hara
(N, P, K) dan parameter pertumbuhan (tinggi tanaman, jumlah daun, serta diameter
batang). Data dianalisis menggunakan ANOVA, uji lanjut DMRT pada taraf 5%,
dan uji korelasi Pearson. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi NPK dan
Asam Humat berpengaruh nyata dalam meningkatkan efisiensi serapan hara dan
pertumbuhan jagung manis. Perlakuan ¾ NPK + 20 kg/ha Asam Humat (E)
merupakan dosis optimal yang mampu meningkatkan efisiensi serapan N sebesar
47,86%, P sebesar 10,54%, dan K sebesar 47,67% dibandingkan dengan dosis NPK
rekomendasi tunggal. Selain itu, perlakuan tersebut secara konsisten meningkatkan
seluruh parameter pertumbuhan tanaman dibandingkan dengan kontrol maupun
dosis rekomendasi konvensional.