;

Abstrak


STRATEGI DAN KOORIENTASI KOMUNIKASI PROGRAM CITY OF GASTRONOMY PADA PEMERINTAH KOTA SALATIGA


Oleh :
Awallina Yusanda - S262108007 - Sekolah Pascasarjana

Awallina Yusanda, S262108007, Strategi Dan Koorientasi Komunikasi Program City Of Gastronomy Pada Pemerintah Kota Salatiga. Pembimbing I: Prof. Drs. Pawoto, Ph.D, Pembimbing II: Dr. Andre N. Rahmanto S.Sos., M.Si. Program Studi Pascasarjana Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Sebelas Maret Surakarta. Salatiga merupakan kota di Jawa Tengah diantara kota Semarang dan Solo yang ditetapkan sebagai Kota Kreatif Indonesia dan mewakili Indonesia dalam nominasi Creative City of Gastronomy UNESCO Creative City Network (UCCN) pada tahun 2021. Gastronomi merupakan seni atau ilmu makanan yang baik, yang didalamnya terdapat budaya, sejarah, faktor geografis, dan metode memasak dari makanan atau minuman. Kota Salatiga memiliki makanan yang memiliki cerita budaya dan sejarah dibaliknya, sehingga berpotensi untuk menjadi kota gastronomi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui strategi yang dilakukan pemerintah kota Salatiga dalam program City of Gastronomy. Selain itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui koorientasi antara pemerintah kota Salatiga dan masyarakat kota Salatiga khususnya pelaku usaha kuliner dalam program city of gastronomy. Pendekatan teori menggunakan SOSTAC Chafey dan teori koorientasi Broom & Sha. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan metode studi kasus. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan observasi. Wawancara dilakukan kepada staff pemerintah kota Salatiga dan masyarakat pelaku kuliner yang masuk dalam kuliner gastronomi. Observasi dilakukan pada sosial media dan website gastronomy Salatiga. Teknikk pemilihan sample adalah dengan purposive sampling dengan kriteria para pelaku usaha yang memahami permasalahan terkait program city of gastronomy. Penelitian ini menghasilkan temuan bahwa, pemerintah kota Salatiga menggunakan strategi komunukasi yang dilakukan dengan: 1.) Membentuk kebijakan, 2.) Mengadakan program pelatihan dan pendampingan, 3.) Mengadakan acara, 4.) Melibatkan komunitas. Strategi tersebut cenderung disampaikan melalui media sosial, namun belum memiliki segmentasi khalayak. Pada koorientasi antara pemerintah dan masyarakat, terbentuknya situasi konflik (false conflict) yang salah karena adanya kesamaan pemahaman antara pemerintah dan masyarakat mengenai gastronomi, namun belum ada kesamaan mengenai bagaimana pandangan satu sama lain tentang gastronomi. Hal tersebut menunjukan adanya agreement, namun belum adanya accuracy dan conruency. Sehingga dapat dilihat bahwa sosialisasi yang dilakukan pemerintah belum maksimal karena komunikasi yang dilakukan oleh pemerintah lebih dominan dengan komunikasi satu arah.