Learning Management System (LMS) adalah alat e-learning yang digunakan secara luas untuk meningkatkan pengalaman belajar siswa dan memperdalam pemahaman mereka tentang topik tertentu. Namun, dalam perkembangannya, penerapan LMS di negara-negara berkembang seringkali tidak mencapai potensinya, baik secara keseluruhan maupun sebagian. Salah satu faktor penyebab kegagalan ialah adopsi LMS yang tidak sesuai dengan kebutuhan organisasi oleh pemangku kepentingan. Penelitian ini mengimplementasikan MCDM TOPSIS untuk menetukan LMS yang sesuai bagi organisasi berdasar kebutuhan pengguna. Studi kasus yang digunakan adalah Universitas Sebelas Maret Surakarta khususnya prodi PTIK. Atribut yang digunakan adalah delapan faktor kualitas perangkat lunak berdasarkan standar ISO/IEC 25010, yaitu Functional suitability, Compatibility, Performance, Efficiency, Usability, Reliability, Security, Maintainability, Portability. LMS yang dijadikan alternatif adalah LMS open source yaitu Atutor, Chamilo, FormaLMS, ILIAS, Moodle, dan Opigno. Kemudian diukur atribut faktor kualitas nya menggunakan PhpMetrics . Kemudian digunakan metode TOPSIS untuk mengukur nilai dari setiap alternatif (LMS). Studi ini melibatkan mahasiswa angkatan 2020 dan 2021 serta dosen PTIK FKIP UNS. Hasil perhitungan TOPSIS menunjukkan bahwa FormaLMS menempati peringkat pertama dengan nilai 0,67. Maka dapat disimpulkan bahwa FormaLMS adalah LMS yang paling sesuai untuk Organisai jika dilihat dari kriteria Faktor Kualitas Perangkat Lunak.