Kekerasan seksual menjadi isu yang mendapatkan perhatian lebih di Indonesia karena jumlah laporan kasus yang diterima Komnas Perempuan sejak tahun 2014 yang berjumlah 4.543 terus menerus naik hingga mencapai 7.396 kasus pada tahun 2019. Kekerasan seksual akan memberi dampak negatif yaitu depresi, fobia, mimpi buruk, curiga terhadap orang lain, merasa terbatasi saat berhubungan dengan orang lain dan juga berhubungan seksual, dan merasakan dorongan kuat untuk bunuh diri. Oleh karena itu, resiliensi diperlukan untuk mengatasi dampak-dampak negatif tersebut dan meningkatkan ketahanan diri.
Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap dinamika resiliensi perempuan korban kekerasan seksual. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif pendekatan fenomenologis, dengan wawancara sebagai metode pengambilan data. Sampel dalam penelitian berjumlah 3, diambil menggunakan teknik purposive sampling dengan kriteria berjenis kelamin perempuan dan pernah mengalami kekerasan seksual. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kemampuan analisis sebab akibat, efikasi diri, optimisme, empati, peningkatan aspek positif, dan regulasi emosi membantu proses resiliensi dari perempuan korban kekerasan seksual. Terdapat dua temuan baru yang membantu proses resiliensi perempuan korban kekerasan seksual yaitu motivasi dan self compassion. Proses resiliensi juga dipengaruhi oleh faktor eksternal yaitu keluarga, teman sebaya, dan stigma masyarakat terhadap korban kekerasan seksual.