Imbuhan air tanah adalah sejumlah air hujan yang masuk ke dalam system akuifer selama periode tertentu, meskipun tidak menutup kemungkinan imbuhan air tanah berasal dari air permukaan. Imbuhan air tanah yang tinggi akan mengakibatkan beberapa dampak buruk terutama pada bidang pertanian. Kecamatan Paranggupito memiliki bentuk lahan karst yang termasuk ke dalam Pegunungan Seribu. Lahan karst mempunyai karakteristik tekstur tanah remah, mudah hancur dan mudah meloloskan air. Studi penjelasan mengenai imbuhan air tanah diperlukan untuk mengetahui seberapa besar tingkat imbuhan air tanah dan arahan konservasi yang dapat dilakukan. Penelitian dilakukan di Kecamatan Paranggupito, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Metode yang digunakan ialah metode deskriptif eksploratif dengan pendekatan survei.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelas imbuhan air tanah dan sebaran pada lahan karst. Parameter yang diamati meliputi ketinggian tempat, kemiringan lereng, jenis tanah, jenis batuan, tekstur tanah dan porositas tanah. Penelitian dilakukan dengan pembuatan Satuan Peta Lahan (SPL) yang terdiri dari 20 SPL dengan masing-masing SPL dibuat 3 titik. Satuan Peta Lahan dibuat berdasarkan penggunaan lahan, jenis tanah, kemiringan lereng, jenis batuan dan curah hujan. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan rumus APLIS (Altitude, Pendiete, Lithology, Infiltration, and Soils) kemudian dilanjutkan pembuatan peta pada setiap SPL. Uji korelasi dilakukan untuk menentukan parameter imbuhan air tanah yang paling berhubungan dengan imbuhan air tanah. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan kelas imbuhan air tanah dibagi menjadi 2 kelas, yaitu sedang (40-60%) dan tinggi (60-80%). Faktor penentu imbuhan air tanah yaitu infiltasi dan porositas tanah. Upaya rekomendasi arahan konservasi yang dapat dilakukan sesuai permasalahan yang ada yaitu dengan penambahan bahan organic.