Provinsi Jawa Tengah merupakan salah satu provinsi dengan prevalensi stunting yang tinggi di Indonesia. Pada tahun 2022, Provinsi Jawa Tengah memiliki prevalensi stunting sebesar 20,8%, mendekati prevalensi stunting di Indonesia sebesar 21,6%. Daerah-daerah di Provinsi Jawa Tengah memiliki keragaman dari segi geografis, ekonomi, sosial budaya, kualitas sumber daya manusia, dan ketersediaan sumber daya alam. Penelitian ini bertujuan untuk memodelkan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap prevalensi stunting menggunakan Geographically Weighted Regression (GWR) dan Mixed Geographically Weighted Regression (MGWR). Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder yang bersumber dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Tengah dan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2022. Perbedaan karakteristik antar lokasi menyebabkan terjadinya heterogenitas spasial, sehingga masalah tersebut diatasi dengan melakukan pemodelan menggunakan GWR. Pemodelan dengan GWR memberikan hasil bahwa terdapat satu variabel yang tidak signifikan secara lokal, sehingga pemodelan juga dilakukan dengan menggunakan MGWR dengan pembobot kernel adaptive tricube. Model yang baik dipilih berdasarkan nilai AIC terkecil dan ????^2 terbesar. Model GWR untuk pemodelan prevalensi stunting di Provinsi Jawa Tengah memberikan hasil yang lebih baik dengan nilai AIC sebesar 148,883 dan ????^2
sebesar 88,01% dibandingkan dengan model MGWR
yang menghasilkan nilai AIC sebesar 190,371 dan ????^2 sebesar 47,66%. Berdasarkan hasil analisis dengan model GWR menggunakan pembobot adaptive tricube, faktor-faktor yang berpengaruh terhadap prevalensi stunting di Provinsi Jawa Tengah adalah bayi baru lahir yang mendapatkan inisiasi menyusu dini (IMD), balita dengan gizi buruk, balita yang mendapatkan vitamin A, dan pengeluaran riil per kapita.