Abstrak


Satuan Lingual dan Makna dalam Tradisi Metri Tuk Babon di Dusun Selo Wangan Desa Selo Kecamatan Selo Kabupaten Bojolayi (Kajian Etnolinguistik)


Oleh :
Elsy Rahmawati Prasetyo - B0120022 - Fak. Ilmu Budaya

Permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini, adalah: (1) bagaimanakah prosesi tradisi Metri Tuk Babon di Selo Boyolali dilaksanakan?; (2) apa sajakah  bentuk satuan lingual dalam tradisi Metri Tuk Babon di Selo Boyolali?; dan (3) bagaimanakah makna leksikal dan makna kultural dalam tradisi Metri Tuk Babon di Selo Boyolali?. Tujuan penelitian ini mencakup tiga hal, yaitu: (1) mendeskripsikan prosesi tradisi Metri Tuk Babon di Selo Boyolali, (2) menyebutkan bentuk satuan lingual dalam tradisi Metri Tuk Babon di Selo Boyolali, dan (3) menjelaskan makna leksikal dan makna kultural dalam tradisi Metri Tuk Babon di Selo Boyolali. 
Sumber data penelitian berupa peristiwa tradisi Metri Tuk Babon yang berlokasi di Dusun Selo Wangan, Desa Selo, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, dan informan yang memenuhi syarat dan kriteria. Data penelitian ini berupa data lisan dan data tulis. Data lisan berupa hasil wawancara dengan informan dan data tulis berupa penelitian terdahulu, dan dokumen gambar dalam tradisi Metri Tuk Babon. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Metode pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah metode simak dan metode cakap dengan teknik dasar dan teknik lanjutan. Metode analisis data yang digunakan adalah metode agih. Kemudian, menggunakan metode padan referensial dengan teknik Pilah Unsur Penentu (PUP) untuk menganalisis makna kultural.
Simpulan penelitian ini adalah: (1) tradisi Metri Tuk Babon merupakan acara peringatan dan penghormatan kepada Tuhan YME dan juga para leluhur. Tradisi ini dilakukan satu kali dalam satu tahun pada tanggal 14 Sapar. Tradisi ini memiliki tujuh prosesi; (2) ditemukan bentuk monomorfemis berjumlah 25 istilah yaitu jagung, mbili, rengginang, buceng, jadah, wajik, ingkung, ceker, suwiwi, brutu, menyan, jeroan, dan seterusnya. Bentuk polimorfemis berjumlah 4 istilah yaitu lawuhan, kembang setaman, kembang boreh, jenang sengkala. Bentuk frasa sebanyak 16 istilah yaitu jenang abang, jenang putih, godhong gedhang, sega golong lima, sega golong telu, jangan kluwih, jangan cecek, sega agung berkah, dan seterusnya; (3) makna yang terdapat makna leksikal dan makna kultural. Makna leksikal merupakan makna secara umum dan terdapat di dalam kamus. Makna kultural yang terdapat dalam tradisi Metri Tuk Babon mengarah kepada bentuk rasa syukur kepada Tuhan YME. Selain itu, tradisi ini memiliki ajaran tuntunan kebutuhan hidup yang digunakan untuk mencapai kesejahteraan yang membangun sistem berkesadaran baik secara individual maupun secara berkelompok.