Tanah lempung lunak termasuk salah satu tanah bermasalah dengan daya dukung yang rendah dan memiliki kompresibilitas yang cukup tinggi. Penggunaan material Expanded Polysterene (EPS) Geofoam merupakan salah satu solusi karena memiliki densitas yang sangat ringan. Penelitian ini menganalisis penurunan yang terjadi pada tanah lunak di bawah timbunan konvensional dan timbunan dengan material EPS Geofoam. Software yang digunakan untuk menganalisis penurunan berupa Plaxis 2D dan Sigma/W GeoStudio 2018. Permodelan dilakukan pada dua kondisi yaitu kondisi normal dan kondisi saat adanya gaya uplift, dengan variasi berupa densitas material EPS Geofoam.
Penurunan saat kondisi normal ditinjau pada empat model yaitu timbunan menggunakan EPS 22, EPS 39, EPS 46, dan tanpa EPS Geofoam. Analisis menggunakan Plaxis 2D diperoleh penurunan secara berturut-turut sebesar 15,396 cm, 15,73 cm, 15,733 cm, dan 42,478 cm, sedangkan pada Sigma/W GeoStudio 2018 secara berturut-turut sebesar 15,9992 cm, -16,5197 cm, 16,6120 cm, dan 24,2546 cm. Hasil permodelan pada kondisi uplift ditinjau pada tiga model yaitu menggunakan EPS 22, EPS 39, dan EPS 46. Analisis menggunakan Plaxis 2D menghasilkan penurunan berturut-turut 14,8331 cm, 15,1592 cm, dan 15,1699 cm, sedangkan pada Sigma/W GeoStudio secara berturu-turut sebesar 15,6733 cm, 16,1955 cm, dan 16,2879 cm. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan material EPS Geofoam memberikan penurunan pada tanah lunak yang lebih kecil dibanding timbunan tanah konvensional. Kondisi adanya gaya uplift memberikan perubahan berupa kenaikan pada besar deformasi vertikal yang terjadi.