Abstrak


Analisis kinerja keuangan koperasi baitul maal wat tamwil (bmt) sebagai lembaga keuangan mikro syariah (studi kasus pada baitul maal wat tamwil di wilayah sukoharjo, solo dan karanganyar)


Oleh :
Sapto Priyanto - F 0305017 - Fak. Ekonomi dan Bisnis

Abstrak : Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran kinerja keuangan BMT yang ada di wilayah Sukoharjo, Solo dan Karanganyar. Kinerja keuangan yang diteliti meliputi struktur permodalan, likuiditas, efisiensi dan rentabilitas. Penelitian ini menggunakan sampel 30 BMT yang tersebar di wilayah Sukoharjo, Solo dan Karanganyar. Pemilihan sampel dalam penelitian ini menggunakan metode purposive sampling. Data diperoleh dengan teknik dokumentasi dan dianalisis dengan statistik deskriptif dan standar PINBUK. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) struktur permodalan BMT di wilayah Sukoharjo, Solo dan Karanganyar digolongkan sangat sehat baik dilihat dari rata-rata maupun penyebaran terbanyak, (2) likuiditas BMT di wilayah Sukoharjo, Solo dan Karanganyar digolongkan tinggi baik dilihat dari rata-rata maupun penyebaran terbanyak, (3) efisiensi BMT di wilayah Sukoharjo, Solo dan Karanganyar digolongkan kurang secara rata-rata dan rendah berdasarkan penyebaran terbanyak, (4) rentabilitas BMT di wilayah Sukoharjo, Solo dan Karanganyar digolongkan tinggi secara rata-rata dan sangat tinggi berdasarkan penyebaran terbanyak. Untuk menganalisis likuiditas, PINBUK menggunakan pembiayaan sebagai sumber likuiditas untuk membayar kewajiban sehingga belum menggambarkan likuiditas secara keseluruhan. Dari analisis dan hasil penelitian yang dilakukan diperoleh kesimpulan bahwa BMT yang beroperasi di wilayah Sukoharjo, Solo dan Karanganyar menunjukkan (1) struktur permodalan yang sangat sehat baik dilihat dari rata-rata maupun penyebarannya. Ini dikarenakan BMT memiliki modal yang cukup dalam mengatasi penarikan dana segera anggota, (2) likuiditas yang tinggi baik dilihat dari rata-rata maupun penyebarannya. Dengan likuiditas tinggi berarti BMT memiliki kemampuan membayar kembali penarikan dana yang dilakukan anggota dengan mengandalkan pembiayaan yang diberikan tanpa adanya penundaan, namun penilaian ini hanya melihat likuiditas dari sisi pembiayaan sehingga belum menggambarkan likuiditas pada umumnya. (3) efisiensi yang kurang secara rata-rata dan rendah berdasarkan penyebarannya. Ini menunjukkan BMT tidak dapat mengendalikan biaya operasional dengan baik dalam menghasilkan pendapatan, (4) rentabilitas yang tinggi secara rata-rata dan sangat tinggi berdasarkan penyebarannya. Ini berarti BMT memiliki kemampuan yang baik dalam menghasilkan keuntungan dengan menggunakan aset yang ada. Untuk penelitian selanjutnya disarankan untuk memperluas wilayah dan kurun waktu pengamatan yang lebih panjang, menambah indikator kinerja keuangan dengan kualitas aktiva produktif serta menambah rasio likuiditas dengan rasio lain untuk memperoleh hasil yang lebih akurat.