Kacang tanah (Arachis hypogaea L.) merupakan salah satu tanaman aneka kacang yang bernilai ekonomi tinggi karena mengandung protein nabati tinggi. Permintaan kacang tanah di Indonesia terus meningkat setiap tahun. Namun, produksi masih rendah belum memenuhi kebutuhan. Penurunan produksi kacang tanah disebabkan oleh penurunan kesuburan tanah dan penggunaan lahan yang kurang unsur hara. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah suplai unsur hara melalui pemupukan yang sebaiknya mengkombinasikan pupuk anorganik dan pupuk organik seperti SP-36 dan kascing. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan substitusi dosis SP-36 dengan kascing yang tepat untuk pertumbuhan dan hasil kacang tanah. Penelitian melalui percobaan dilaksanakan di kebun percobaan Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta, Desa Sukosari, Kecamatan Jumantono, Kabupaten Karanganyar mulai November 2023-Januari 2024. Metode yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) berupa dosis P2O5 pada SP-36 dan kascing, yaitu 200 kg P2O5 pada SP-36/ha, 150 kg P2O5 pada SP-36/ha + 50 kg P2O5 pada kascing/ha, 100 kg P2O5 pada SP-36/ha + 100 kg P2O5 pada kascing/ha, 50 kg P2O5 pada SP-36/ha + 150 kg P2O5 pada kascing/ha, 200 kg P2O5 pada kascing/ha. Analisis data menggunakan analysis of variance (ANOVA) dan dilanjutkan dengan uji Duncan Multiple Range Test (DMRT) taraf kesalahan 5%. Hasil penelitian menunjukkan substitusi pupuk fosfor anorganik dengan kascing meningkatkan jumlah biji per tanaman, namun tidak meningkatkan secara nyata peubah pengamatan lain. Pemberian 200 kg P2O5 pada kascing/ha menghasilkan jumlah biji per tanaman terbanyak yaitu 76,20 biji meningkat 19,4 biji lebih banyak dan berbeda nyata dibandingkan pemberian 200 kg P2O5 pada SP-36/ha.