Pengelolaan kawasan konservasi yang berkelanjutan membutuhkan pendekatan kolaboratif dan adaptif untuk menghadapi beragam tantangan dan tekanan sosial ekonomi termasuk perubahan lingkungan. Keberadaan ruang perubahan merupakan aspek penting untuk mendukung pencapaian hal tersebut. Dengan menggunakan pendekatan Problem Driven Iterative Adaptation (PDIA), penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kapasitas kelembagaan Tahura K.G.P.A.A. Mangkunagoro I dalam membangun ruang perubahan, yaitu Otoritas, Kemampuan, dan Penerimaan. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa Tahura K.G.P.A.A. Mangkunagoro I berada pada level C, artinya peraturan yang ada telah dilaksanakan, namun belum mencangkup semua. Kemampuan pengelola tersedia mulai dari sumber daya manusia, sarana prasarana, dan pendanaan, namun masih belum mencukupi. Pengelola telah mendapat dukungan dan penerimaan dari para pemangku kepentingan, namun masih perlu meningkatkan hubungan kerjasama dan kolaborasi agar dapat diterima secara penuh. Maka, Tahura K.G.P.A.A. Mangkunagoro I perlu memperkuat kapasitas kelembagaan, meningkatkan komunikasi dan kolaborasi dengan para pemangku kepentingan, serta mengembangkan mekanisme adaptif yang lebih responsif terhadap kondisi lapangan. Dengan demikian, perlu ada upaya perbaikan yang berkelanjutan dalam membangun ruang perubahan untuk mewujudkan pengelolaan Tahura K.G.P.A.A. Mangkunagoro I yang adaptif dan kolaboratif. Harapannya, esensi dari ruang perubahan tersebut dapat mendukung terwujudnya pengelolaan kawasan konservasi terhadap berbagai tantangan.