Latar Belakang : Anemia menjadi salah satu masalah kesehatan seringkali terjadi tanpa disadari. Kondisi anemia yang dapat menimbulkan gejala kurang tenaga, cepat lelah, dan sakit kepala. Kondisi tersebut akan menyebabkan hipoksia di otak dan mempengaruhi aktivitas fisik yang melibatkan aspek atensi, kemampuan bahasa dan memori. Aspek tersebut diatur dalam satu sistem di otak yaitu sistem limbik yang juga mengatur kognitif. Kognitif merupakan suatu proses berpikir yang berhubungan dengan tingkat kecerdasan seseorang dalam berbagai minat terutama ditujukan pada ide-ide belajar. Kemampuan kognitif memiliki peranan yang sangat penting dalam keberhasilan belajar seseorang, karena sebagian besar aktivitas dalam belajar selalu berhubungan dengan proses mengingat dan berpikir.
Tujuan : Untuk mengetahui hubungan status anemia terhadap kognitif mahasiswa S1 Kebidanan Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret.
Metode : Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini sebanyak 111 mahasiswi kebidanan. Pengambilan sampel menggunakan teknik snowball sampling dengan hasil 60 responden. Analisis data menggunakan uji Korelasi Pearson .
Hasil Penelitian : Menunjukkan bahwa mayoritas mahasiswi kebidanan Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret tidak mengalami anemia sebanyak 44 responden (73,3%) dan rerata hasil skor Montreal Cognitive Assesment-Ina sebesar 24 Analisis data menggunakan uji Korelasi Pearson didapatkan nilai signifikansi 0,584 (p-value > 0,05) yang berarti tidak ada korelasi antara status anemia dan kognitif pada mahasiswa. Hasil uji derajat hubungan didapatkan hasil -0,072 yang berarti terdapat korelasi negatif antara kedua variabel.
Kesimpulan : Tidak ada korelasi antara status anemia dan kognitif.