Penelitian
ini dilakukan karena melihat perkembangan kelompok LGBT terutam waria di Kota
Surakarta yang semakin berkembang, meningkatkan diskriminasi dan stigma negatif
terhadap eksistensi mereka. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana
stigma dan diskriminasi yang terjadi pada waria di Kota Surakarta, serta
bagaimana hal tersebut memperngaruhi eksistensi mereka di dalam masyarakat.
Selain itu, untuk mengetahui bagaimana masyarakat memandang waria. Teori yang
digunakan dalam penelitian ini adalah teori Konstruksi Sosial (Peter L. Berger)
dan teori Anomie (Robert K. Merton). Penelitian ini menggunakan pendekan
kualitatif, menggunakan metode in-depth interview
dengan jenis penelitian fenomenologi. Pengumpulan data dengan cara wawancara
secara langsung dan observasi. Informan penelitian ini adalah waria dan
masyarakat yang lebih banyak beraktifitas di Kota Surakarta. Teknik analisis
data menggunakan analisis flow chart (analisis data mengalir).
Berdasarkan dari hasil penelitian,
waria di Kota Surakarta sering dianggap menyimpang dari norma sosial dan budaya
yang berlaku. Akibatnya, waria sering mengalami stigma dan diskriminasi.
Pandangan masyarakat Indonesia terhadap waria bervariasi. Stigma terhadap waria
mencakup stigma sosial dan stigma diri. Stigma sosial muncul dari pandangan
negatif masyarakat terhadap identitas gender waria, sementara stigma diri
terjadi ketika waria menginternalisasi pandangan negatif ini, yang berdampak
buruk pada harga diri dan kesejahteraan emosional mereka. Waria di Indonesia
masih menghadapi diskriminasi yang signifikan meskipun komunitas LGBT semakin
terlihat di berbagai tempat. Diskriminasi ini sering kali berupa ejekan, komentar
negatif, pengucilan, dan kekerasan fisik. Banyak waria merasa tertekan dan malu
dengan identitas mereka, yang mempengaruhi interaksi sosial dan kesejahteraan
emosional mereka. Diskriminasi ini sering diperparah oleh sikap negatif dari
keluarga dan orang terdekat. Kekerasan fisik juga menjadi ancaman nyata bagi
banyak waria.