Abstrak


Model Supply Chain Pada Fuel Cell Electric Vehicle Dengan Mempertimbangkan Insentif Pemerintah Dan Kontrak


Oleh :
Danendra Amrih - M0120019 - Fak. MIPA

Perubahan iklim menjadi salah satu masalah yang sedang dihadapi dunia saat ini. Penggunaan kendaraan berbahan bakar fosil berperan dalam menghasilkan gas rumah kaca sehingga kerusakan lingkungan yang berpotensi menyebabkan perubahan iklim dapat terjadi. Oleh karena itu, diperlukan produk ramah lingkungan yang dapat mengurangi kerusakan lingkungan. Salah satu produk ramah lingkungan adalah kendaraan listrik sel bahan bakar atau biasa disebut Fuel Cell Electric Vehicle (FCEV). FCEV adalah kendaraan yang digerakkan oleh sel bahan bakar yang mengubah energi kimia menjadi listrik. Salah satu jenis sel bahan bakar yang digunakan pada sektor otomotif adalah polymer electrolyte membrane (PEM). Hidrogen merupakan bahan bakar utama dalam sel bahan bakar PEM dengan hasil sampingannya adalah air. Tantangan dalam penggunaan bahan bakar hidrogen dipengaruhi oleh tingginya biaya dan kurangnya infrastruktur hidrogen yang memadai. Selain itu, tantangan dalam produksi FCEV terdapat pada masalah teknis dan biaya produksi. Biaya produksi yang tinggi sangat berpengaruh pada harga jual hidrogen dan FCEV sehingga perkembangan dari permintaan pasar FCEV menjadi terhambat.

Insentif pemerintah serta kontrak antar pihak yang terlibat dalam rangkaian produksi FCEV dapat dilakukan untuk tujuan meningkatkan perkembangan pasar FCEV. Insentif pemerintah dibagi menjadi empat, yaitu insentif biaya modal produsen FCEV (GAC), insentif biaya modal pemasok hidrogen (GHC), insentif biaya operasional pemasok hidrogen (GHO), dan kredit pajak untuk FCEV (GVT). Untuk kontrak yang dilakukan berupa kontrak subsidi yang dilakukan oleh produsen FCEV untuk membantu pemasok hidrogen dalam biaya operasional stasiun pengisian bahan bakar hidrogen.

Penelitian ini mempunyai tujuan untuk mengonstruksi dan menerapkan model supply chain dengan mempertimbangkan pengaruh insentif pemerintah dan kontrak. Penelitian ini menggunakan strategi Stackelberg dengan pemasok hidrogen sebagai perusahaan pemimpin dan produsen FCEV sebagai perusahaan pengikut. Terdapat dua model yang diterapkan dalam penelitian ini, yaitu model tanpa kontrak dan model dengan kontrak subsidi. Dengan diterapkannya kedua model tersebut, dapat diperoleh bahwa dengan adanya insentif pemerintah serta kontrak yang dilakukan dapat berpengaruh dalam meningkatkan perkembangan pasar FCEV. Insentif pemerintah berupa kredit pajak FCEV (GVT) merupakan insentif yang paling berpengaruh dalam meningkatkan perkembangan pasar FCEV dibandingkan dengan insentif pemerintah lainnya. Selain itu, dengan adanya kontrak subsidi juga memberikan peningkatan perkembangan pasar FCEV dibandingkan dengan tidak adanya kontrak subsidi.