Abstrak


Model Susceptible Asthma Complication Treatment (Kasus pada Data Asma di Indonesia)


Oleh :
Bayu Krisna Cendranata - M0120083 - Fak. MIPA

Penyakit tidak menular merupakan penyakit yang dapat terjadi karena adanya infeksi dalam tubuh. Infeksi terjadi karena adanya benda asing masuk ke dalam tubuh seperti debu, kotoran, virus ataupun bakteri. Penyakit tidak menular tidak dapat diketahui penyebarannya karena tidak ada proses penularan antara setiap individu. Akan tetapi, penyakit tidak menular dapat diketahui pertumbuhannya melalui perubahan jumlah individu dalam suatu populasi. Asma merupakan penyakit tidak menular kronis yang ditandai dengan gejala sesak napas akibat peradangan dan penyempitan pada saluran pernapasan. Penyakit asma adalah penyebab ketiga kasus kematian penyakit terbanyak di dunia dengan total kasus sebanyak 455 ribu juta. Di Indonesia, prevalensi penyakit asma pada tahun 2018 yaitu 2,4% atau sekitar 9,5 juta jiwa. Sedangkan pada tahun 2020, prevalensi asma di Indonesia sebesar 4,5% atau sekitar 12 juta jiwa. Pertumbuhan penyakit asma dapat direpresentasikan dalam model susceptible asthma complication treatment (SACT).

Penelitian ini bertujuan memformulasikan model SACT, menerapkan model tersebut pada pertumbuhan asma di Indonesia, menentukan pola pertumbuhannya, dan memperkirakan prevalensi asma di Indonesia. Metode penelitian yang digunakan adalah studi literatur dan terapan. Studi literatur yang dilakukan adalah mengidentifikasi karakteristik penyakit asma, menambah kelompok individu baru, mengubah asumsi insidensi tanpa faktor penyebab menjadi insidensi dengan mempertimbangkan faktor penyebab, menambah asumsi individu yang telah sembuh dikelompokkan ke dalam individu kelompok A, menambah parameter, dan menentukan perubahan sesaat antarvariabel. Berdasarkan langkah tersebut diperoleh model SACT. Studi terapan yang dilakukan adalah mengestimasi delapan nilai parameter, menentukan nilai awal pada masing-masing kelompok individu, menentukan penyelesaian model menggunakan metode Runge-Kutta orde empat, menghitung MAPE, membuat scatter plot penyelesaian, prevalensi asma di Indonesia.

Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh model SACT yang berupa sistem persamaan diferensial linear orde satu dengan variabel bebas t dan variabel terikat S, A, C, dan T. Model SACT diterapkan pada data asma di Indonesia berdasarkan data tahun 2010-2020. Data tahun 2011-2018 digunakan untuk mengestimasi nilai parameter sehingga diperoleh model SACT di Indonesia. Data tahun 2010 digunakan sebagai nilai awal sedangkan data tahun 2019-2020 digunakan untuk menentukan keakuratan model menggunakan MAPE. Diperoleh norm MAPE sebesar 14,2% yang berarti model SACT pada pertumbuhan asma di Indonesia akurat. Penyelesaian model berupa banyaknya individu masing-masing kelompok. Pola pertumbuhan penyakit asma di Indonesia menunjukkan trend naik. Pada tahun 2030, prevalensi asma di Indonesia diperkirakan meingkat mencapai 4%.