Bangsa Indonesia
dikenal karena memiliki kecenderungan yang kuat terhadap keagamaan. Nilai-nilai
spiritual dan kepercayaan kepada Tuhan yang dimiliki oleh Bangsa Indonesia
menunjukkan bahwa agama memegang peranan penting sebagai landasan dalam
berbagai aspek kehidupan. Selain enam agama resmi, Indonesia juga menghargai
keberadaan Penghayat Kepercayaan yang telah diakui sejak zaman sebelum
kemerdekaan. Sebagai bekas wilayah dari Kerajaan Raja Kejawen, Kota Solo
mewarisi budaya yang beragam. Ini mendorong perkembangan Penghayat Kepercayaan
di Kota Solo, yang tetap eksis meskipun di era globalisasi saat ini.
Penghayat
Kepercayaan di Kota Solo sering menghadapi tantangan terkait diskriminasi dan
kurangnya implementasi peraturan yang mendukung hak-hak dasar mereka.
Ekslusivitas mereka masih terjaga hingga saat ini. Untuk meningkatkan kesadaran
masyarakat dan pemerintah terhadap kesetaraan dan keadilan bagi Penghayat
Kepercayaan, sebuah karya audiovisual berjudul “Rahayu” diproduksi
sebagai film dokumenter. Film ini menyajikan informasi tentang dinamika
pengakuan Penghayat Kepercayaan di Kota Solo, dengan fokus pada pengalaman
mereka di lapangan dan respons masyarakat terhadap keberadaan mereka. Lokasi
pengambilan gambar berada di Kota Surakarta, menyoroti berbagai paguyuban
Penghayat Kepercayaan yang ada di sana.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk
menjelaskan secara detail peran, tugas, dan tanggung jawab seorang camera
person dalam produksi karya audiovisual berupa film dokumenter yang
berjudul “Rahayu”. Sebagai camera person dalam produksi film dokumenter tentang
Penghayat Kepercayaan, peran penulis adalah untuk mengabadikan dengan cermat
dan empati terkait berbagai aspek kehidupan dan keyakinan pada
paguyuban-paguyuban ini. Penulis berusaha untuk menjaga keseimbangan antara
dokumentasi yang akurat dan representasi yang menghormati keberagaman keyakinan
dan praktik spiritual di masyarakat.