Uwi atau Dioscore alata dikenal memiliki tingkat kesulitan dalam budidaya generatif karena pembungaannya tidak menentu, sehingga petani menggunakan umbinya sebagai bahan tanam. Namun, budidaya menggunakan umbi juga relatif sulit karena terbatasnya ketersediaan umbi dan perubahan iklim yang tidak menentu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan konsentrasi 2,4-D dan NAA terbaik dalam menginduksi kalus D. alata.Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium In Vitro, Departemen Teknologi Pertanian, Fakultas Pertanian, Universiti Putra Malaysia pada bulan Desember 2023-Februari 2024. Metode yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang disusun secara non faktorial, terdiri dari (0 mg.L-1 2,4-D + 0 mg.L-1NAA; 1mg.L-1 2,4-D; 2 mg.L-1 2,4-D; 3 mg.L-1 2,4-D; 1 mg.L-1 2,4-D + 0,5 mg.L-1 NAA; 2 mg.L-1 2,4-D + 1,0 mg.L-1 NAA; 3 mg.L-1 2,4-D + 1,5 mg.L-1 NAA). Setiap perlakuan diulang empat kali, dengan setiap ulangan terdiri dari lima sampel percobaan, sehingga totalnya menjadi 140 unit percobaan. Data dikumpulkan kemudian dianalisis menggunakan analisis varians (ANOVA) pada taraf kesalahan 5%, dan setiap perbedaan yang nyata dievaluasi lebih lanjut menggunakan Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) pada tingkat kesalahan 5%. Kultur in vitro dalam penelitian ini menggunakan media Murashige & Skoog yang ditambahkan dengan kombinasi ZPT 2,4-D dan NAA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian 2,4-D dan NAA berpengaruh terhadap induksi kalus D. alata. Pemberian 2,4-D dan NAA memberikan hasil yang baik terhadap morfologi kalus D. alata dibandingkan dengan pemberian auksin secara tunggal. Kombinasi 3 mg L-1 2,4-D + 1,5 mg.L-1 NAA memberikan hasil terbaik pada kalus D. alata dibandingkan dengan perlakuan lainnya, dan kombinasi NAA 2 mg.L-1 2,4-D + 1,0 mg.L-1 NAA memberikan hasil terbaik pada diameter kalus D. alata, sedangkan pada berat kalus 1 mg.L-1 2,4-D + 0,5 mg.L-1 NAA memberikan hasil terbaik dibandingkan perlakuan lainnya.