Formasi Semilir
merupakan formasi yang tersusun atas material asal gunung api. Kenampakan di
lapangan berupa batuan yang masif dan tebal. Formasi ini tersusun atas
batuserpih berwarna putih keabu-abuan pada bagian bawah, tuff dasitan dan
dominasi berupa breksi tuff pumisan. Tanah yang terbentuk dari pelapukan batuan
tuff di Formasi Semilir sering digunakan masyarakat sekitar sebagai material
tanah timbunan perkerasan jalan (sub-grade) atau timbunan lainnya. Pemilihan
tanah lapukan tuff sebagai material subgrade harus memenuhi beberapa kriteria
salah satunya kekuatan tanah dalam menahan beban dengan pengujian California
Bearing Ratio (CBR) dan kuat geser. Nilai CBR dan kuat geser pada tanah
dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah gradasi butiran tanah,
sifat fisis tanah, kepadatan tanah, kadar air dan kandungan mineral yang
terdapat di dalamnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisi pengaruh sifat
fisik tanah. mineralogi dan geokimia pada tanah lapukan tuff terhadap daya
dukung tanah yang dinyatakan dengan nilai CBR dan kuat geser. Sampel yang digunakan
adalah sampel tanah lapukan Tuff yang diambil dari dua belas lokasi berbeda di
Formasi Semilir, yaitu Candi Sari 1 (CS1), Candi Sari 2 (CS2), Watu Payung 1
(WP1), Watu Payung 2 (WP2), Nlipar Lapis atas (NLa), Nlipar Lapis bawah (NLb),
Semilir 1 (S1), Semilir 2 (S2), Gajah Mungkur 1 (GM1), Gajah Mungkur 2 (GM2),
Ponorogo 1 (P1) dan Ponorogo 2 (P2). Sampel-sampel ini diuji untuk menentukan
sifat fisik, sifat mekanik, kandungan mneralogi dan geokimianya. Metode
analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis X-Ray
Diffraction (XRD) dan Scanning Electron Microscopy (SEM) untuk mengetahui
karakteristik mineralogi tanah dan X-Ray Flouressence (XRF) untuk mengetahui
unsur utama tanah dan tingkat pelapukan tanah dengan perhitungan Indeks Pelapukan
Kimia. Penentuan sifat fisik tanah ditentukan dengan metode pengujian analisa
gradasi butiran tanah, batas-batas Atterberg dan permeabilitas, sedangkan
analisis daya dukung dengan menggunakan uji pemadatan proctor modifikasi dan
CBR. Hasil pengujian XRD dan SEM menunjukkan kandungan mineral yang dominan
pada Sampel WP1 dan WP2 yaitu kuarsa dan saponit, pada sampel GM2 dan CS1
didominasi kuarsa dan halloysit, pada sampel CS2 dan S2 didominasi anortit dan halloysit,
sampel NLa dan NLb didominasi mineral kuarsa, kalsit dan mika, sedangkan sampel
P1 dan P2 didominasi mineral anortit dan kalsit. Hasil Analisis XRF menunjukkan
tanah lapukan tuff Formasi Semilir termasuk pada tanah lapukan dari batuan
felsik dan batuan karbonat. Terdapat korelasi >90% antara tingkat pelapukan
tanah dengan indek pelapukan kimia Vogt’s Ratio, dan korelasi >80?ngan
indek pelapukan Weathering Index of Parker, Chemical Index od Weathering,
Chemical Index of Alteration dan Plagioclase Index of Alteration. Hasil
analisis akhir menunjukkan adanya penurunan nilai CBR seiring dengan kenaikan
tingkat pelapukan. Nilai permeabilitas tanah masuk pada kategori rendah, hal
ini diakibatkan proses pemadatan pada sampel dan adanya kandungan mineral
lempung pada tanah.