Adopsi sepeda motor listrik di Indonesia masih rendah meskipun ada
kebutuhan mendesak untuk beralih ke transportasi ramah lingkungan. Faktor
penghambat utama meliputi keterbatasan infrastruktur pengisian daya, biaya awal
yang tinggi, dan kurangnya kesadaran serta kepercayaan terhadap teknologi ini.
Meskipun ada upaya pemerintah melalui Peraturan Presiden No. 55 Tahun 2019
untuk mempercepat penggunaan kendaraan listrik, hingga Maret 2022, jumlah
Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB) masih sangat terbatas.
Salah satu solusi untuk mengatasi keterbatasan infrastruktur adalah penggunaan
Mobile Battery Swap Charging Station (MBSCS) yang dapat mempermudah
akses pengisian daya dan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Penelitian ini menggunakan Theory of Planned Behavior (TPB) untuk
menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi niat dan perilaku konsumen dalam
mengadopsi sepeda motor listrik di Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode
analisis data Partial Least Square-Structural Equation Model (PLS-SEM) untuk
mengetahui hubungan langsung dan tidak langsung variabel yang memengaruhi
intensi adopsi motor listrik.