;
Latar
Belakang: Stres dan burnout merupakan hal
yang sering terjadi kalangan profesional kesehatan, termasuk dokter residen. Berbagai
studi terbaru menunjukkan bahwa stres, baik yang bersifat akut maupun kronis
dan berulang berkaitan dengan perkembangan terjadinya sindrom metabolik. Stres
yang terjadi dapat menyebabkan peningkatan kortisol, di mana kadar kortisol
yang tinggi terlibat dalam perkembangan diabetes dan obesitas yang akan
menuntun kepada sindrom metabolik.
Metode: Penelitian dilakukan secara observasional analitik dengan desain
penelitian case control. Sampel diambil dari residen ilmu penyakit dalam
dan residen ilmu kesehatan anak dengan cara purpossive sampling. Sampel
yang digunakan sebanyak 50 orang. Subyek dilakukan penilaian BMI, lingkar perut,
LDL, trigliserida, GDP, untuk mengetahui apakah masuk dalam kriteria sindrom
metabolik, serta diperiksa kadar kortisol darah pagi secara bersamaan. Subyek
mengisi kuesioner DASS-21 untuk menilai stres.
Hasil: Terdapat perbedaan yang signifikan antara skor stres subyek dengan sindrom metabolik (24) dibandingkan dengan subyek yang tidak sindrom metabolik (6). Subyek dengan sindrom metabolik memiliki rata-rata kadar kortisol yang lebih tinggi (302.0) daripada yang tidak sindrom metabolik (222.6). Stres berhubungan signifikan dengan peningkatan kortisol dengan kekuatan kategori sedang (p<0 p=0.003). p=0.001)>
Kesimpulan: Stres secara signifikan berhubungan dengan kadar kortisol yang abnormal akan tetapi tidak berhubungan langsung dengan sindrom metabolik, sedangkan kortisol berhubungan signifikan dengan sindrom metabolik. Sehingga stres menyebabkan peningkatan kortisol, yang kemudian memberikan dampak pada kejadian sindrom metabolik