;

Abstrak


Kajian Psikologi Individual Tokoh Utama Novel Nun pada Sebuah Cermin dan Mei Hwa dan Sang Pelintas Zaman Karya Afifah Afra dan Kebermanfaatannya dalam Pengembangan Materi Ajar Sastra di SMA


Oleh :
Puput Puji Lestari - S841908017 - Sekolah Pascasarjana

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menjelaskan: 1) perjuangan meraih keberhasilan atau menjadi superior tokoh utama dalam novel Nun Pada Sebuah Cermin dan Mei Hwa dan Sang Pelintas Zaman; 2) persepsi subjektif tokoh utama dalam novel Nun Pada Sebuah Cermin dan Mei Hwa dan Sang Pelintas Zaman; 3) gaya hidup tokoh utama dalam novel Nun Pada Sebuah Cermin dan Mei Hwa dan Sang Pelintas Zaman; 4) kesatuan kepribadian tokoh utama dalam novel Nun Pada Sebuah Cermin dan Mei Hwa dan Sang Pelintas Zaman; 5) kekuatan kreatif tokoh utama dalam novel Nun Pada Sebuah Cermin dan Mei Hwa dan Sang Pelintas Zaman; 6) minat sosial tokoh utama dalam novel Nun Pada Sebuah Cermin dan Mei Hwa dan Sang Pelintas Zaman; 7) Relevansi novel Nun Pada Sebuah Cermin dan Mei Hwa dan Sang Pelintas Zaman sebagai materi ajar sastra di SMA.Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan Psikologi Individual Alfred Adler. Data berasal dari novel Nun Pada Sebuah Cermin dan Mei Hwa dan Sang Pelintas Zaman yaitu berupa kata-kata dan kalimat yang termuat di dalamnya. Selain itu, penelitian ini juga menggunakan data hasil wawancara dengan guru bahasa Indonnesia di SMA terkait relevansi Nun Pada Sebuah Cermin dan Mei Hwa dan Sang Pelintas Zaman sebagai materi ajar sastra. Teknik pengumpulan datanya menggunakan wawancara, observasi, dokumentasi. Validitas data yang digunakan yaitu triangulasi sumber data dan triangulasi metode. Sementara teknik analisis data menggunakan model interaktif Miles and Huberman. Hasil penelitian ini terdiri atas: 1) perjuangan meraih keberhasilan atau menjadi superior tokoh utama melingkupi sikap inferior, daya juang, perjuangan mencapai superior, perjuangan mencapai keberhasilan; 2) persepsi subjektif tokoh utama melingkupi persepsi positif pada tokoh Nun dan persepsi positif negatif pada tokoh Mei Hwa dan Sekar Ayu; 3) gaya hidup tokoh Nun cenderung sederhana, sedangkan gaya hidup Mei Hwa dan Sekar Ayu cenderung mewah; 4) kesatuan kepribadian tokoh Nun, yaitu baik dan pekerja keras, sedangkan tokoh Mei Hwa dan Sekar Ayu cenderung baik dan kurang bisa bersosialisasi; 5) kekuatan kreatif tokoh, yaitu memiliki daya kreatif fan kecerdasan yang sama-sama baik; 6) minat sosial tokoh Nun tinggi, tokoh Mei Hwa sedang, dan tokoh Sekar Ayu kurang; 7) relevansi novel Nun Pada Sebuah Cermin dan Mei Hwa dan Sang Pelintas Zaman sebagai materi ajar sastra di SMA, yaitu memiliki keterkaitan karena kedua novel tersebut dapat dijadikan materi ajar di kelas XII.