Di Indonesia, akses layanan
kesehatan berkualitas dijamin oleh Undang-Undang Dasar, dengan Badan
Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan sebagai penyelenggara program
jaminan kesehatan. Salah satu inisiatifnya adalah Program Pengelolaan Penyakit
Kronis (PROLANIS), yang fokus pada pemeliharaan kesehatan peserta dengan
penyakit kronis seperti Diabetes Melitus (DM) Tipe 2. Melalui Program Rujuk
Balik (PRB), Fasilias Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) bertugas merekrut dan
memantau peserta PROLANIS untuk mencapai kualitas hidup optimal. Program ini
juga bertujuan untuk mendorong peserta menjadi lebih mandiri dalam mengelola
kesehatannya dengan dukungan layanan kesehatan yang berkesinambungan.
Studi ini mengevaluasi pelaksanaan
continuum of care (CoC) untuk peserta PRB PROLANIS DM di FKTP di
Surakarta. Penelitian ini mencakup tiga fokus utama: implementasi CoC di FKTP,
hambatan yang dihadapi dalam pelaksanaan layanan, dan persepsi pasien serta PIC
FKTP terhadap program tersebut. Penelitian deskriptif kualitatif ini melibatkan
32 FKTP, pada masing-masing FKTP dengan melibatkan 1 orang Person in Charge
(PIC) dan 1 orang pasien PROLANIS dengan metode purposive sampling. Pengambilan data
dilakukan dengan wawancara
mendalam (pasien) dan FGD (PIC). Temuan menunjukkan bahwa FKTP berperan penting dalam skrining,
monitoring, dan edukasi pasien. Namun, terdapat tantangan teknis seperti
keterbatasan sistem P-Care, kurangnya sosialisasi aturan BPJS, serta
hambatan koordinasi dengan RS rujukan yang perlu segera diatasi.
Pasien memilih FKTP berdasarkan
berbagai pertimbangan, seperti jarak, sikap tenaga kesehatan, dan waktu
pelayanan. Sebagian besar pasien berharap ada perbaikan kualitas layanan,
termasuk efisiensi sistem antrian, pengambilan obat kronis, dan akses layanan
yang lebih cepat. Dari sisi PIC FKTP, ditemukan perlunya penyusunan SOP klinis
untuk PRB, pelatihan rutin, dan pengembangan sistem P-Care agar lebih
responsif terhadap kebutuhan di lapangan.
Untuk meningkatkan kualitas CoC
pada pasien PROLANIS DM, tenaga kesehatan di FKTP perlu diberikan pelatihan
praktis secara berkala mengenai pengelolaan penyakit DM, termasuk edukasi
kepada pasien tentang pencegahan komplikasi dan pentingnya kepatuhan terhadap
pengobatan. Panduan sederhana yang operasional perlu disediakan agar
implementasi CoC di FKTP lebih mudah dijalankan. Selain itu, FKTP dan Rumah Sakit (RS) harus meningkatkan koordinasi
untuk memastikan layanan rujukan berjalan lancar. Pengembangan sistem
pendukung, seperti penambahan petugas khusus untuk pengelolaan data P-Care,
akan sangat membantu kelancaran proses administrasi dan pemantauan pasien.
Sistem antrian di RS juga perlu diperbaiki untuk mengurangi waktu tunggu
pasien. BPJS Kesehatan perlu menyesuaikan standar operasional dengan kondisi FKTP
dan RS untuk mendukung pelaksanaan PRB. Monitoring rutin dan pengembangan fitur
P-Care, seperti notifikasi, histori rujukan, dan pengingat untuk pasien,
sangat penting untuk meningkatkan efektivitas program. Sosialisasi yang
intensif terkait kebijakan baru dan pelatihan berkelanjutan bagi PIC FKTP harus
menjadi prioritas agar tenaga kesehatan siap menghadapi tantangan di lapangan.