Perkembangan Kota Surakarta yang pesat disertai dengan kepadatan penduduk yang tinggi dan keterbatasan lahan untuk permukiman di perkotaan, mendorong kebutuhan akan pengembangan hunian vertikal. Pengembangan hunian vertikal menjadi alternatif dalam mewadahi kepadatan penduduk di Kota Surakarta yang cenderung terkonsentrasi di kawasan transit. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis potensi pengembangan hunian vertikal di kawasan transit Kota Surakarta dengan membandingkan lokasi yang paling potensial untuk pengembangan hunian vertikal di antara Kawasan Stasiun Solo Jebres dan Kawasan Stasiun Purwosari. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan pendekatan deduktif. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Kawasan Stasiun Solo Jebres memiliki nilai potensial yang lebih tinggi untuk pengembangan hunian vertikal daripada Kawasan Stasiun Purwosari, dikarenakan Kawasan Stasiun Solo Jebres memiliki kedekatan jarak dengan pusat Kota Surakarta, kepadatan penduduk yang tinggi, dominasi penggunaan lahan non permukiman, kemudahan aksesibilitas transportasi, serta memiliki ketersediaan dan persebaran infrastruktur pendukung berupa jalur pedestrian, fasilitas publik, jaringan sampah, dan jaringan air bersih yang merata di seluruh kawasannya. Potensi pengembangan hunian vertikal di Kawasan Stasiun Solo Jebres juga didukung dengan urgensi kedekatannya dengan kawasan strategis lainnya di Kota Surakarta. Sementara itu, Kawasan Stasiun Solo Jebres memiliki beberapa tantangan terkait keteersediaan lahan kosong, kerawanan bencana banjir, dan kurang memadainya infrastruktur pendukung. Sehingga dalam pengembangan hunian vertikal di masa mendatang diperlukan upaya pendekatan yang komprehensif untuk memaksimalkan potensi dan meminimalisir tantangan yang ada di Kawasan Stasiun Solo Jebres.