Abstrak


Tingkat Kesesuaian Kampung Deret Petogogan terhadap Konsep Livable Settlement


Oleh :
Safynatus Mayar Bening Rizkita - I0621074 - Fak. Teknik

Perumahan dan permukiman merupakan salah satu elemen utama dalam membentuk kota yang layak huni atau livable city. Masalah perumahan dan permukiman, khususnya DKI Jakarta, terus menjadi isu krusial seiring meningkatnya jumlah penduduk dan keterbatasan akses masyarakat berpenghasilan rendah terhadap permukiman yang layak huni. alah satu upaya penanganannya adalah melalui Program Kampung Deret, yang bertujuan untuk memperbaiki kualitas lingkungan permukiman melalui pendekatan peremajaan kawasan. Kampung Deret Petogogan merupakan salah satu lokasi percontohan pertama dari program tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana tingkat kesesuaian Kampung Deret Petogogan terhadap konsep livable settlement, yakni permukiman yang tidak hanya layak secara fisik tetapi juga memenuhi aspek non-fisik. Penelitian dilakukan dengan menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif melalui metode analisis skoring. Penilaian dilakukan dengan mengacu pada indikator objektif dan subjektif yang disusun berdasarkan teori dan standar livable settlement, mencakup tujuh variabel utama: kualitas fisik bangunan hunian, fasilitas penunjang permukiman, ruang terbuka hijau publik, transportasi umum, keterlibatan masyarakat, sense of community, dan kondisi keamanan kawasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kampung Deret Petogogan memperoleh skor kesesuaian sebesar 77,18%, yang dikategorikan sebagai “cukup sesuai” dengan konsep livable settlement. Meskipun telah mengalami peningkatan infrastruktur dan kualitas bangunan, Kampung Deret Petogogan masih menghadapi tantangan fisik seperti kepadatan dan keterbatasan ruang terbuka sehingga belum sepenuhnya sesuai dengan konsep permukiman layak huni. Pada sisi lain, kehidupan sosial yang kuat dan dinamis tetap menjadi faktor penting yang mendukung kualitas hidup di dalamnya. Temuan ini menunjukkan bahwa aspek subjektif dalam komunitas, seperti hubungan sosial, berperan penting dalam meningkatkan kelayakan huni, bahkan ketika aspek objektif permukiman masih perlu perbaikan.