Abstrak


SEKOLAH KARTINI DI BUITENZORG TAHUN 1915-1942


Oleh :
Muhammad Naufal Wicaksono - B0421043 - Fak. Ilmu Budaya

Muhammad Naufal Wicaksono. 2025. Sekolah Kartini di Buitenzorg Tahun 1915-1942.  Skripsi: Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret. Penelitian ini mengkaji Sekolah Kartini yang merupakan pendidikan perempuan di Buitenzorg pada periode 1915–1942. Pendirian sekolah ini didukung oleh Kartini Fonds, sebuah lembaga dana yang berperan penting dalam pembiayaan dan pengembangan sekolah-sekolah Kartini di pulau Jawa. Sekolah Kartini di Buitenzorg bertujuan memberikan akses pendidikan kepada perempuan, khususnya dari kalangan priyayi, dalam rangka mendorong kemajuan sosial dan budaya melalui jalur pendidikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana latar belakang berdirinya Sekolah Kartini di Buitenzorg, dan bagaimana perkembangan Sekolah Kartini di Buitenzorg tahun 1915-1942. Penelitian ini menggunakan metode sejarah yang meliputi empat tahapan: heuristik, kritik sumber (eksternal dan internal), interpretasi, dan historiografi. Sumber data diperoleh dari arsip kolonial, surat kabar sezaman, laporan pendidikan resmi, serta literatur sekunder seperti buku dan artikel ilmiah yang relevan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Sekolah Kartini di Buitenzorg pertama kali dibuka pada tahun 1915 dengan jumlah murid sekitar 60 orang dan meningkat hingga menjadi 250 orang pada tahun 1923. Pada 1917, Kartinifonds mengajukan usulan pembukaan sekolah khusus guru pribumi untuk menghasilkan tenaga pendidik pribumi yang berkualitas. Kurikulum yang diajarkan mencakup pelajaran membaca, menulis, berhitung, keterampilan rumah tangga, serta pendidikan moral, dengan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa kehadiran Sekolah Kartini di Buitenzorg sangat ditentukan dengan adanya Kartinifonds. Sekolah Kartini di Buitenzorg sempat memiliki murid paling sedikit pada tahun 1915 dan tidak pernah menyentuh angka dibawah 100 sejak tahun 1918. Sekolah ini juga berhasil beroperasi dan berkembang secara berkelanjutan sejak awal berdiri di tahun 1915-1942 berkat subsidi dari Kartinifonds, serta mendapatkan dukungan administratif dan struktural dari pemerintah kolonial.