Abstrak


Tindak tutur direktif dan ekspresif pada rubrik kriiing Solopos (sebuah tinjauan pragmatik)


Oleh :
Jamilatun - C.0206027 - Fak. Sastra dan Seni Rupa

Penelitian ini mengkaji masalah tindak tutur direktif dan ekspresif yang terdapat dalam RKS. Permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini, yaitu (1) Bagaimanakah wujud tindak tutur direktif dalam RKS ? (2) Bagaimanakah wujud tindak tutur ekspresif dalam RKS ? Tujuan penelitian ini adalah (1) Mendeskripsikan wujud tindak tutur direktif dalam RKS. (2) Mendeskripsikan wujud tindak tutur ekspresif dalam RKS. Penelitian ini termasuk jenis penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan pragmatik. Populasi dalam penelitian ini berupa keseluruhan tuturan yang mengandung tindak tutur direktif dan ekspresif dalam rubrik RKS pada surat kabar harian Solopos. Sampel dalam penelitian ini adalah sebagian tuturan yang mengandung tindak tutur direktif dan ekspresif pada harian Solopos yang terdapat dalam RKS yang terbit pada bulan Februari, Maret, dan April 2010. Sumber data penelitian ini adalah adalah RKS pada surat kabar harian Solopos. Data dalam penelitian ini adalah tuturan-tuturan pada RKS yang mengandung tindak tutur direktif dan ekspresif edisi bulan Februari, Maret, dan April 2010. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik pustaka, teknik simak dan catat. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis padan dan teknik analisis cara tujuan. Teknik penyajian hasil analisis data dalam penelitian ini adalah penyajian secara formal dan informal. Berdasarkan analisis data, dalam RKS ditemukan 12 jenis tindak tutur direktif. Tindak tutur direktif itu meliputi tindak tutur „mengajak‟, „mengingatkan‟, „melarang‟, „menasihati‟, „meminta‟, „memohon‟, „menyarankan‟, „menyuruh‟, „mengharap‟, „mengusulkan‟, „memperingatkan‟, dan „mempertanyakan‟. Wujud tindak tutur direktif yang paling banyak ditemui adalah tindak tutur „meminta‟ dan „memohon‟. Dalam RKS ditemukan 43 jenis tindak tutur ekspresif. Tindak tutur ekspresif itu meliputi tindak tutur „memprotes‟, „mengkritik‟, „mendukung‟, „menyetujui‟, „menyindir‟, „menyayangkan‟, „berterima kasih‟, „mengeluh‟, „membenarkan‟, „memuji‟, „mencurigai‟, „meminta maaf‟, „mengklarifikasi‟, „mengungkapkan rasa iba‟, „mengungkapkan rasa bangga‟, „mengungkapkan rasa salut‟, „mengungkapkan rasa malu‟, „mengungkapkan rasa kecewa‟, „mengungkapkan rasa jengkel‟, „mengungkapkan rasa prihatin‟, „mengungkapkan ketidaksetujuan‟, „mengungkapkan rasa heran‟, „mengungkapkan rasa khawatir‟, „mengungkapkan rasa ketidakpedulian‟, „mengungkapkan rasa yakin‟, „mengungkapkan rasa bingung‟, „mengungkapkan rasa sakit hati‟, „mengungkapkan rasa senang‟, „mengungkapkan rasa simpati‟, „mengungkapkan rasa marah‟, „mengungkapkan rasa muak‟, „mengungkapkan rasa resah‟, xxii „mengungkapkan rasa ngeri‟, „mengungkapkan rasa sedih‟, „mengungkapkan rasa syukur‟, „mengucapkan selamat‟, „mengejek‟, „menghina‟, „menyesal‟, „menolak‟, „mengevaluasi‟, „mengungkapkan rasa berduka cita‟, dan „mengumpat‟. Wujud tindak tutur ekspresif yang paling banyak ditemui adalah tindak tutur „berterima kasih‟ dan „mengkritik‟.