Abstrak


Representasi high Context Culture dalam film (Studi Semiotik tentang Representasi Kebudayaan Jepang sebagai High Context Culture dalam film The Last Samurai)


Oleh :
Madina Priska Diani - D.0206069 - Fak. ISIP

High Context Culture merupakan bagian dari studi komunikasi antar budaya. Konteks kebudayaan tersebut merupakan hasil dari tradisi lokal selama ribuan tahun lamanya yang mengajarkan kepada pengikutnya untuk mengungkapkan segala sesuatu tidak secara langsung dan lebih menekankan kepada komunikasi non verbal. Jepang merupakan salah satu negara penganut konteks kebudayaan ini. Dimana kebudayaan konteks tinggi tersebut terepresentasi dalam sebuah karya sinematografi berupa film produksi Hollywood berjudul The Last Samurai. The Last Samurai mengangkat kisah kehidupan Jepang selama modernisasi di era Kaisar Meiji. Dalam film tersebut terdapat pertentangan antara kaum Samurai yang ingin mempertahankan kebudayaan tradisional Jepang dengan pemerintahan Kaisar Meiji yang mengadopsi kemajuan barat beserta kebudayaan – kebudayaannya. Nilai-nilai kebudayaan Jepang yang coba dipertahankan oleh para Samurai tersebut terepresentasi dalam berbagai bentuk tradisi dan kebiasaan lokal yang merupakan bagian dari komunikasi non verbal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui simbol-simbol komunikasi non verbal apa sajakah yang merepresentasikan kebudayaan Jepang dalam Film The Last Samurai beserta makna yang terkandung di dalamnya. Penelitian ini merupakan bagian dari penelitian deskriptif kualitatif yang menggunakan analisis semiotika berdasarkan pendekatan Roland Barthes yang tertuang dalam buku Semiotika Komunikasi karangan Alex Sobur (2004). Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Simbol-simbol non verbal dalam film The Last Samurai lebih merepresentasikan tentang High Context Culture Jepang yang teraplikasikan dalam nilai-nilai Bushido yang merupakan bagian dari ajaran Samurai. Dimana dalam kebudayaan konteks tinggi tersebut, lebih menonjolkan tentang pentingnya menjunjung harga diri, kehormatan serta pembedaan status sosial. Secara kuantitas, representasi terbanyak didominasi oleh kategori simbol non verbal Kinesik disusul oleh kategori Proksemik dan Paralingualistik. Saran dari penelitian ini adalah individu sebagai bagian dari suatu bangsa dan kebudayaan lokal hendaknya bersikap bijaksana ketika mengadopsi kemajuan teknologi bangsa lain yang juga secara bersamaan membawa kebudayaan asalnya. Tujuannya adalah agar setiap individu tidak kehilangan dan melupakan kebudayaan asli mereka karena itu merupakan wujud dari jati diri dan identitas sesungguhnya sebagai seorang manusia, kelompok dan juga bangsa