Abstrak


Citra Diri Pengamen Pedesaan (Studi Deskriptif Kualitatif Pencitraan Diri Warga Miskin Dukuh Kalisari, Desa Banyudono, Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali)


Oleh :
Irfan Fitriadi - D.0305040 - Fak. ISIP

The purpose of this research is to understand the self-image, shape public assessment of the singers, as well as the impact assessment in an attempt to exit from poverty for rural singers Kalisari as a musician. This type of research is a qualitative descriptive study. Data were collected by interview and search of documents related to research problems. Informants in this study were traditional leaders and village government. Singers are as key informants. Sampling was done by using homogeneous. Data collected by observation technique does not participate and are not structured in-depth interviews. To analyze data using interactive data analysis. The validity of the data was done by using triangulation of sources. From the results of this research is motivated to be a crush of singers consisted of economic, environmental influences or internal conflict impingement family and juvenile delinquency. The division of labor Kalisari singers recognize two patterns of division of labor which individually and in groups. Kalisari singers have so-called structural poverty in which singers Kalisari not have the means to engage in the political process that causes them to be in the lowest social strata in rural areas. Looking glass self-concept described C. H. Cooley contains three essential elements of imagination our appearance to others, imagination of an assessment of her appearance, and the kind of feeling herself. In other words someone needs assessment of people against what they show. Individual singers are assessing and imaging appearance of his own like this community to see the behavior of singers. Discussion of research found that there are two patterns of singing is confident and shy. Imagination singers Kalisari of community assessment consisted of imagination tolerance and isolation. The impact of this imagination has no effect on employment, behavior and mindset so that singers Kalisari singers remain in the circle of poverty. Bad image given to the singers will not solve the problems faced by street singers. Improving the quality of individuals that is more focused on improving the quality of human resources, especially singers allows individual singers are able to competitiveness. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memahami pencitraan diri, bentuk penilaian masyarakat terhadap pengamen, serta imbas penilaian tersebut dalam usaha keluar dari lingkaran kemiskinan bagi pengamen Kalisari sebagai pengamen pedesaan. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif kualitatif. Pengambilan data dilakukan dengan wawancara mendalam dan pencarian dokumen-dokumen yang berkaitan dengan permasalahan penelitian. Informan dalam penelitian ini adalah tokoh adat dan pemerintah desa. Pengamen adalah sebagai informan kunci. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik homogen. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik obeservasi tidak berpartisipasi dan wawancara mendalam secara tidak berstruktur. Untuk menganalisa data menggunakan analisa data interaktif. Validitas data dilakukan dengan teknik triangulasi sumber. Dari hasil penelitian dapat diketahui motivasi menjadi seorang pengamen terdiri dari himpitan ekonomi, pengaruh lingkungan konflik internal keluarga atau pelampiasan dan kenakalan remaja. Pembagian kerja pengamen Kalisari mengenal dua pola pembagian kerja yaitu secara individu dan secara berkelompok. Pengamen Kalisari mengalami apa yang disebut dengan kemiskinan struktural di mana pengamen Kalisari tidak memiliki sarana untuk terlibat dalam proses politik sehingga menyebabkan mereka berada dalam lapisan sosial paling bawah di pedesaan. Konsep Looking glass self yang dipaparkan C. H. Cooley mengandung tiga elemen penting yaitu imajinasi penampilan kita kepada orang lain, imajinasi tentang penilaian mengenai penampilan itu, dan jenis perasaan diri. Dengan kata lain seseorang membutuhkan penilaian orang lain terhadap apa yang ia tampilkan. Individu pengamen sudah menilai penampilan dan pencitraan sendiri seperti hal-nya masyarakat melihat perilaku pengamen. Pembahasan penelitian ditemukan bahwa terdapat dua pola mengamen yaitu percaya diri dan malu. Imajinasi pengamen Kalisari terhadap penilaian masyarakat terdiri dari imajinasi toleransi dan isolasi. Imbas imajinasi ini tidak berpengaruh terhadap pekerjaan, perilaku dan pola pikir pengamen sehingga pengamen kalisari tetap dalam lingkaran kemiskinan. Citra buruk yang diberikan pada pengamen tidak akan menuntaskan permasalahan yang dihadapi pengamen. Perbaikan kualitas individu yang lebih menitik beratkan pada peningkatan kualitas sumber daya manusia, khususnya pengamen memungkinkan individu pengamen mampu untuk berdaya saing. Kata Kunci: Pengamen, kemiskinan, citra diri.