Abstrak


Netralitas media dalam PILKADA (analisis narasi berita PILKADA Kota Surakarta di Harian Solopos periode 9 april - 30 april 2010 dalam perspektif netralitas media )


Oleh :
Ria Putri Utami - D.0206091 - Fak. ISIP

Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pilkada) Surakarta 2010 diikuti oleh dua kandidat yakni pasangan Joko Widodo-FX Hadi Rudyatmo (Jo-Dy) dan pasangan Eddy Wirabhumi-Supradi Kertamenawi (Wi-Di). Bagi Jo-Dy,ini kali kedua mereka mencalonkan diri sebagai Cawali-Cawawali setelah pada kesempatan yang pertama mereka berhasil menduduki kursi pemerintahan. Ini berarti Jo-Dy maju sebagai pasangan incumbent. Sebagai pihak yang masih berkuasa, Jo-Dy memiliki kesempatan besar menggunakan kekuasannya untuk mempengaruhi netralitas media demi memperoleh kemenangan kembali. Dengan latar belakang yang demikian, peneliti tertarik untuk mengetahui bagaimana pemberitaan terkait Pilkada Surakarta 2010 dinarasikan oleh media bila dilihat dari perspektif netralitas media. Media yang dipilih untuk diteliti adalah harian Solopos karena selain memiliki market share terbesar, harian lokal ini yang paling lama bertahan dan berkembang di Surakarta. Adapun obyek penelitian yang dipilih adalah berita-berita di halaman utama selama periode kampanye dan pasca pemilihan yakni sejak 9 April-30 April 2010. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis narasi berita dengan mengambil tiga elemen narasi sebagai pokok bahasannya. Ketiga elemen tersebut adalah 5 W 1 H, dramatisasi, dan bias reporting. Adapun teknik analisis data dengan mereduksi data, menyajikan data kemudian menarik kesimpulan. Berdasarkan hasil analisis data yang dilakukan didapat kesimpulan bahwa pemberitaan mengenai Pilkada Surakarta 2010 di Harian Solopos telah dinarasikan secara informatif karena mengandung setidaknya tiga jawaban pertanyaan dasar pembuatan berita 5 W 1 H (what, who, when). Akan tetapi apabila mengacu pada prinsip netralitas media, pemberitaan Solopos tentang Pilkada Surakarta 2010 cenderung tidak netral. Hal ini ditandai dengan hadirnya dramatisasi dan bias reporting. Dengan demikian Harian Solopos sebagai surat kabar lokal yang lahir, tumbuh dan berkembang di Surakarta, semestinya terus berupaya untuk menjaga dan meningkatkan obyektivitas pemberitaannya demi mewujudkan mottonya “Meningkatkan Dinamika Masyarakat”. Hal ini dapat dilakukan dengan meminimalisasi elemen-elemen ketidaknetralan yang ditandai dengan adanya dramatisasi, personalisasi maupun emosionalime. Local head elections Surakarta in 2010 followed by the two candidates namely pairs Joko Widodo-FX Hadi Rudyatmo (Jo-Dy) and Eddy Wirabhumi-Supradi Kertamenawi (Wi-Di). For Jo-Dy, this is the second time they ran for Cawali-Cawawali after the first occasion they managed to occupy the seat of government. This means that Jo-Dy forward as a couple incumbent. As the party was in power, Jo-Dy has a great opportunity to use his power to affect the neutrality of the media to gain the victory again. With such a reason, researchers are interested in knowing how the news related Surakarta Election 2010 narrated by the media when viewed from the perspective of media neutrality. The media selected for the study include Daily Solopos because besides having the largest market share, this local daily the longest to survive and develop in Surakarta. The research object chosen is the news on the main page during the campaign period and the post-election since 9 April-30 April 2010. The method used in this study is the method of narrative analysis of news by taking three elements of narrative as the subject. The third element is 5 W 1 H, dramatization, and biased reporting. The data analysis techniques to reduce data, presenting data and then draw conclusions. Based on the results of data analysis can be concluded that the news about Surakarta local head elections 2010 in Daily Solopos Surakarta has been informative because it contains at least three answers to basic questions making news 5 W 1 H (what, who, when.) However, when referring to the principle of media neutrality, news in Daily Solopos about 2010 local elections in Surakarta tend not to be neutral. It is characterized by the presence of dramatization and biased reporting. Thus the Daily Solopos as local newspapers are born, grow and develop in Surakarta, should continue its efforts to maintain and improve the objectivity of preaching for the sake of realizing the motto "Improving the Dynamics of Community". This can be done by minimizing the elements of partiality is marked by a dramatization, personalization and emotionalism.