Abstrak


Penataan permukiman bantaran sungai Di sangkrah Dengan arsitektur sebagai respon terhadap banjir


Oleh :
Rahardi Adhitya Leksana - I0205014 - Fak. Teknik

Ketika pilihan lokasi berhuni dianggap merupakan prioritas yang “mutlak”, manusia lebih memilih konsekuensi lokasional yang justru lebih mengerikan – banjir. Lahan berpangkat “bantaran” jelas saja merupakan daerah banjir. Dilematis memang, karena faktanya banjir tidak terjadi setiap saat, sedangkan menciptakan kembali kemapanan bertempat tinggal (dalam berbagai orientasi) di tempat baru tidaklah mudah dan singkat. Desain penataan yang dilakukan menjadi “arsitektur mengatur manusia” – mau tidak mau manusianya harus menerima tatanan baru yang cenderung ideal dalam kaitannya menghindari intervensi permasalahan banjir, yang tidak hanya merugikan, juga mematikan Selebihnya, untuk mencapai suatu realitas, barulah “arsitektur berdasarkan manusia”, desain disesuaikan dengan penghuninya, humanis, agar mereka mau dan mampu menempati. Selain kemudian menanamkan kepercayaan dan kesepakatan pada masyarakat untuk menjaga kelestarian lahan yang dimiliki dan dikelola bersama tersebut, sebagai prasyarat penempatan lahan, desain juga harus positif terhadap site, karena di sisi lain, klise namun memang begitu adanya – memanfaatkan bantaran sungai sekiranya adalah negatif, dalam perspektif regulasi, dengan dilandasi alasan ekologis dan hidrologis untuk kepentingan luas. Dengan asumsi itu, aspek ketersediaan lahan dapat terlebih dulu diabaikan untuk kemudian diperoleh tatanan yang baik – untuk manusianya dan juga lingkungan.