Abstrak


Hubungan terpaan cigarette marketing communication dan tingkat personal approval terhadap kecenderungan perilaku merokok (Studi Korelasi Terpaan Cigarette Marketing Communication dan Tingkat Personal Approval Terhadap Kecenderungan Perilaku Merokok pada


Oleh :
Rangga Alderezal C N - D.0207086 - Fak. ISIP

Iklan rokok telah menjadi masalah besar bagi kesehatan masyarakat karena mengarahkan konsumen untuk percaya bahwa merokok adalah hal yang wajar dan bagus. Meskipun pemerintah sudah membuat aturan periklanan, komunikasi pemasaran rokok terus berjalan, bahkan bukan hanya melalui iklan namun melalui gabungan alat promosi lain membentuk sebuah promotion mix. Dalam Monograph The Role of The Media, mengenai “Influence of Tobaccco Marketing on Smoking Behavior” dikatakan bahwa komunikasi marketing ini sangatlah menarik sehingga membentuk sebuah kecenderungan perilaku merokok. Faktor lain yang berpengaruh terhadap kecenderungan merokok adalah penerimaan personal individu. Pada jurnal internasional oleh Jin Sung dkk berjudul “Smoking in Australian university students and its association with socio-demographic factors, stress, health status, coping strategies, and attitude” disebutkan bahwa personal approval berpengaruh secara langsung terhadap perilaku merokok. Namun demikian, personal approval sendiri menurut George E Belch juga dipengaruhi oleh komunikasi pemasaran. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan hubungan antara komunikasi pemasaran rokok melalui promotion mix, penerimaan personal individu, dan kecenderungan merokok. Teori yang digunakan dalam penelitian ini yang dapat menjelaskan hubungan ketiga variabel tersebut adalah Social Cognitive Theory dari Albert Bandura. Pada penelitian ini kuesioner digunakan untuk mengumpulkan data, sehingga ini merupakan penelitian survei. Sebanyak 82 mahasiswa Fakultas Kedokteran telah menyelesaikan pengukuran terpaan komunikasi marketing rokok, tingkat penerimaan personal, dan kecenderungan perilaku merokok. Selanjutnya data tersebut diolah dengan skala ordinal dan nominal. Berdasarkan temuan penelitian diketahui level terpaan komunikasi pemasaran rokok pada responden masuk kategori sedang (55%). Untuk tingkat penerimaan personal sebagian besar responden (65%) masuk kategori rendah. Sedangkan tingkat kecenderungan perilaku merokok di kalangan responden tergolong rendah (63%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa masing-masing variabel berhubungan satu sama lain secara positif dan signifikan. Adapun korelasi antara terpaan komunikasi marketing rokok dan kecenderungan perilaku merokok positif dan signifikan (sig=0,018) dengan hubungan lemah pada koefisien korelasi Kendall’s τ 0,185. Sedangkan tingkat penerimaan personal dan kecenderungan perilaku merokok juga berkorelasi positif dan sangat signifikan (sig=0,000) dengan hubungan kuat pada koefisien korelasi Kendall’s τ 0,426. Dari dua variabel independen tersebut, dapat kita lihat bahwa pada sample penelitian penerimaan personal lebih berpengaruh terhadap kecenderungan perilaku merokok. Meskipun demikian, penerimaan personal juga memiliki korelasi yang