Abstrak


Analisis pemasaran itik di Kabupaten Sukoharjo


Oleh :
Yahya Syahidulhaq - H.0306102 - Fak. Pertanian

Sektor pertanian merupakan salah satu sektor yang penting bagi penduduk Indonesia dalam kegiatan ekonomi maupun dalam penyediaan pangan. Kondisi alam yang sesuai untuk kegiatan pertanian mendorong penduduk Indonesia, khususnya Jawa Tengah, menjadikan pertanian menjadi mata pencaharian sebagian besar penduduknya. Salah satu bidang pertanian yang potensial untuk dikembangkan adalah peternakan, dan Itik merupakan hewan ternak yang potensial. Kabupaten Sukoharjo merupakan daerah yang potensial untuk agribisnis itik. Peternakan itik umumnya untuk menghasilkan telur, tetapi itik yang telah lewat masa produksinya maupun itik jantan sangat potensial untuk dikembangkan menjadi itik pedaging. Pemasaran itik yang baik dan efisien perlu diusahakan untuk dapat menjamin pemenuhan kebutuhan masyarakat. Penelitian ini bertujuan (1) Mengetahui pola saluran pemasaran itik di Kabupaten Sukoharjo (2) Mengetahui tugas dan fungsi lembaga pemasaran itik di Kabupaten Sukoharjo (3) Mengkaji biaya, marjin dan keuntungan pemasaran itik di Kabupaten Sukoharjo (4) Mengkaji efisiensi pemasaran itik di Kabupaten Sukoharjo. Metode dasar penelitian yang digunakan adalah deskriptif analisis. Teknik penelitian yang digunakan adalah metode survey. Penelitian dilakukan di Kabupaten Sukoharjo yang diambil secara sengaja (purposive), dengan pengambilan desa sebagai lokasi sampel penelitian menggunakan metode purposive yaitu Kecamatan Gatak. Metode pengambilan peternak sampel secara sampel acak sederhana (simple random sampling), sedangkan pengambilan responden lembaga pemasaran dengan metode snowball sampling. Data yang diambil data primer dan data sekunder dengan teknik observasi, wawancara, dan angket. Hasil penelitian menunjukkan ada 8 (delapan) saluran itik pedaging di Kabupaten Sukoharjo yaitu, saluran I: Peternak → Pedagang Pengumpul → Konsumen, saluran II: Peternak → Jagal → Konsumen, saluran III: Peternak → Pedagang Pengumpul → Jagal → Konsumen, saluran IV: Peternak → Pedagang Pengumpul → Pedagang Pengecer → Konsumen, saluran V: Peternak → Pedagang Pengecer → Jagal → Konsumen, saluran VI: Peternak → Pedagang Pengecer → Konsumen, saluran VII: Peternak → Agen → Konsumen, dan saluran VIII: Peternak → Pedagang Pengumpul → Pedagang Pengecer → Agen → Konsumen. Biaya pemasaran saluran pemasaran I Rp 864.7 per ekor, saluran II Rp 2463.5 per ekor untuk itik afkir dan Rp 2422.6 per ekor untuk itik 3 bulan, saluran III Rp 2889.5 per ekor, saluran IV Rp 1379.85 per ekor, saluran V sebesar Rp 1336.06 per ekor, saluran VI Rp 820.2 per ekor, saluran VII Rp 676.67 dan saluran pemasaran VIII sebesar 1692.67. Keuntungan pemasaran saluran pemasaran I Rp 2135.3 per ekor, saluran II Rp 536.5 per ekor untuk itik afkir dan Rp 577.4 per ekor untuk itik 3 bulan, saluran III Rp 3110.5 per ekor, saluran IV Rp 3120.15 per ekor, saluran V Rp 2669.5 per ekor, saluran VI Rp 4179.79 per ekor, saluran VII Rp 1323.33 per ekor dan saluran VIII Rp 5307.33 per ekor. Marjin pemasaran saluran I dan II sebesar Rp 3000 per ekor, saluran III Rp 6000 per ekor, saluran IV Rp 4500 per ekor, saluran V Rp 4000 per ekor, saluran VI Rp 5000 per ekor, saluran VII sebesar Rp 2000 per ekor dan saluran pemasaran VIII sebesar Rp 7000 per ekor. Saluran pemasaran yang paling efisien dari segi ekonomi yaitu saluran pemasaran VII karena mempunyai marjin pemasaran paling rendah (Rp 2000 per ekor) dan nilai Farmer’s Share yang paling tinggi (94.29 %). Saran yang dapat diberikan dalam penelitian ini yaitu hendaknya Hendaknya peternak juga menjual itik mereka langsung ke pasar, sebaiknya peternak lebih jeli dalam memilih pedagang pemasaran itik, sebaiknya mendirikan koperasi itik atau kelompok itik sehingga diharapkan harga itik di tingkat peternak akan stabil dan pasar akan terjamin, sebaiknya pedagang mencari itik langsung ke peternak, sehingga rantai pemasaran menjadi lebih pendek dan keuntungan menjadi lebih besar.