Abstrak


Produktivitas kedelai (glycine max l.) Pada sistem tumpangsari jagung (zea mays l.) Secara deret tambah


Oleh :
Yunita Hani Pratiwi - H.0708162 - Fak. Pertanian

Kebutuhan serta permintaan kedelai sebagai salah satu sumber protein nabati semakin meningkat dan tidak dapat dipenuhi oleh produksi dalam negeri. Usaha peningkatan produksi pangan harus selalu diupayakan, mengingat pemilikan tanah yang relatif sempit. Peningkatan produksi diarahkan dengan usaha peningkatan intensitas penggunaan lahan salah satunya dengan sistem tumpangsari. Kedelai dan jagung memungkinkan untuk ditanam secara tumpangsari karena kedelai cukup toleran terhadap naungan sedangkan jagung menghendaki pencahayaan secara langsung. Penurunan hasil kedelai dalam sistem tumpangsari dengan jagung disebabkan karena kompetisi dalam memperebutkan unsur hara, air dan sinar matahari. Pengaturan kerapatan tanam dinilai sebagai salah satu alternatif untuk mengatasi kompetisi tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kerapatan tanam jagung yang optimal terhadap pertumbuhan dan hasil kedelai dan mengkaji hasil jagung tumpangsari yang tidak menurunkan hasil kedelai. Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari 2012 sampai Mei 2012 di Pusat Penelitian Lahan Kering Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta, Kecamatan Jumantono, Kabupaten Karanganyar. Rancangan penelitian yang digunakan adalah menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan perlakuan jarak tanam jagung : 75 cm x 25 cm, 75 cm x 50 cm, 75 cm x 75 cm, 75 cm x 100 cm, 75 cm x 150 cm. Penanaman menggunakan pola tumpangsari additive series (deret tambah) dan masing-masing perlakuan diulang empat kali. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan analisis ragam, dan jika terdapat beda nyata dilanjutkan dengan Uji Beda Jarak Berganda Duncan pada taraf kepercayaan 95%. Variabel penelitian meliputi, kedelai : Tinggi tanaman, jumlah polong per tanaman, jumlah biji per polong, berat 1000 biji, hasil biji per petak, berat segar brangkasan, berat kering brangkasan; jagung : Tinggi tanaman, jumlah tongkol per tanaman, jumlah biji per tongkol, berat 1000 biji, hasil biji per petak, berat segar brangkasan serta berat kering brangkasan per tanaman; Indeks luas daun (ILD) dan Nilai kesetaraan lahan (NKL). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tumpangsari jagung secara deret tambah dengan jarak tanam terapat (75 cm x 25 cm) belum menurunkan hasil kedelai secara nyata. Hasil biji jagung terbaik terjadi pada jarak tanam tumpangsari jagung 75 cm x 25 cm. Ada kecenderungan hasil kedelai cukup tinggi selama ditumpangsarikan dengan perlakuan jarak tanam jagung 75 cm x 100 cm. Berdasarkan Nilai Kesetaraan Lahan (NKL), sistem tumpangsari secara keseluruhan menguntungkan.