Abstrak


Model Hubungan Pemasok-Pemanufaktur Furnitur Yang Mempertimbangkan Penyerapan Karbon Hutan Jati


Oleh :
Ririn Dewi Cahyani - I0308013 - Fak. Teknik

Perum Perhutani (PP) Unit I Jawa Tengah, sebagai sebuah BUMN memiliki kewajiban tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan bahan baku log jati bagi industri kayu, namun juga berkewajiban melestarikan lingkungan dengan mempertahankan hutan yang ada. Hutan yang dipertahankan merupakan kompensasi upaya penyerapan karbon hutan jati. PP juga berkewajiban untuk mengeluarkan Corporate Social Responsibility (CSR) dan memperhatikan K3 karyawan. Dalam model, PP berperan sebagai pemasok. Kesatuan Bisnis Mandiri Industri Kayu Brumbung (KBM IKB) memiliki tanggung jawab untuk memenuhi permintaan ekspor furnitur kayu. KBM IKB memiliki kewajiban untuk memanfaatkan semaksimal mungkin log jati yang dipasok pemasok agar limbah yang dihasilkan minimal. KBM IKB juga berkewajiban untuk memenuhi kebutuhan Alat Pelindung Diri (APD) karyawan. Dalam model, KBM IKB berperan sebagai pemanufaktur furnitur. Dalam mencapai tujuan dan melaksanakan kewajibannya, PP dan KBM IKB harus berusaha mencapai target-target dimana dalam pencapaiannya mungkin saling bertentangan. Pada penelitian ini dikembangkan model hubungan pemasok – pemanufaktur furnitur yang melibatkan perdagangan karbon. Model ini disusun berdasarkan tujuh fungsi tujuan yaitu dari benefit ekonomi, sosial, dan lingkungan. Benefit ekonomi diukur dari profit PP dan profit KBM IKB, benefit lingkungan diukur dari luas area hutan jati untuk perdagangan karbon dan minimasi limbah KBM IKB, dan benefit sosial diukur dari CSR PP, pengadaan APD untuk keselamatan karyawan di PP dan KBM IKB. Pada tahap awal penyusunan model, dilakukan pendeskripsian karakteristik sistem dan memunculkan variabel-variabel yang mempengaruhi sistem relevan objek kajian. Selanjutnya dilakukan penyusunan model dengan prinsip-prinsip goal programming. Setelah itu, model diuji dengan memasukkan nilai-nilai parameter yang diambil dari data perusahaan dan literatur. Uji coba model dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak Lingo 11.0. Pada tahap akhir dilakukan analisis terhadap model. Hasil uji coba model menunjukkan bahwa pada skenario feasible semua goal dapat tercapai targetnya dan dengan pencapaian yang favorable. Dari uji coba tersebut dapat disimpulkan bahwa model ini dapat mendukung hubungan pemasok dan pemanufaktur untuk mencapai target-target terkait kriteria performansi benefit ekonomi, lingkungan, dan sosial yang merupakan objek kajian dari sustainable supply chain.